Solo Trip Indochina. Menembus Perbatasan Singapore-Johor Bahru di Tengah Malam (001)

by - April 14, 2015

Notes to self. Noted! (Photo source: phadaaro)

Pertama Kali Keluar Negeri, Pertama Kali Jalan Sendiri. Lima Negara Indochina dalam Tujuh Hari.

February 3, 2015. Day 1: Jakarta-Singapore-Johor Bahru.
Berbekal tiket murah 90rb rupiah dari Airasia, saya pun melakukan debut perjalanan keluar negeri pertama saya ke Singapura. Awalnya tiket promo ke Singapore yang saya beli sepuluh bulan sebelumnya ini rencananya akan bersama tiga teman lain namun karena satu lain hal mereka batal berangkat. Saya pun akhirnya memutuskan merambah negara lain dan berakhir dengan berkunjung ke lima negara di kawasan asia tenggara. Dikarenakan first solo trip ini judulnya backpacking dan sedari awal saya menasbihkan diri sebagai seorang pejalan gembel alias budget traveler, saya pun memutuskan untuk tidak membeli bagasi saat membeli tiket pesawat. Hal inilah yang akhirnya membatasi saya untuk hanya membawa 7kg berat bawaan yang harus saya tanggung seorang diri selama seminggu keliling indochina. Rute solo trip indochina kali ini adalah Jakarta-Singapore-Johor Bahru-Ho Chi Minh City-Phnomp Penh-Bangkok-Singapore-Jakarta yang akan ditempuh dalam waktu kurang dari tujuh hari.

Berbagai jenis mata uang yang saya tukarkan untuk traveling ke beberapa negara Indochina
Hari H, 3 Februari 2015. Karena pekerjaan di stasiun tv yang sangat fakir jatah cuti dan tak mengenal tanggal merah, saya pun harus pintar-pintar menghemat jatah cuti dengan masih harus masuk kerja pukul 6pagi di hari H keberangkatan. Hari itu saya pun masih disibukkan dengan proses packing dan menukar uang. Traveling ke beberapa negara sekaligus menuntut saya untuk menukar berbagai macam jenis uang. Alhasil kegiatan menukar uang di hari H ini cukup membuat saya kalang kabut. Tapi untunglah semua berjalan dengan lancar.


Selama seminggu saya hanya membawa backpack ukuran 40L ini.
Jam menunjukkan pukul 14.00, waktu take-off pesawat jam 17.40 yang artinya saya harus berangkat ke bandara paling lambat jam 15.00. Proses packing pun akhirnya membuat saya berakhir dengan satu tas selempang dan backpack sekitar tujuh koma sekian kilogram. Selesai semua urusan saya siap berangkat. Untunglah ada teman kantor yang bersedia mengantarkan ke bandara. Lumayan bisa menghemat pengeluaran beberapa puluh ribu rupiah. Sesampai di terminal 3 Bandara Soetta pukul setengah empatan, perut mulai keroncongan karena terlupa sedari pagi belum juga diisi. Setelah cetak bording pass, kami pun memutuskan untuk mengisi perut di salah satu tempat makan di lantai 1 terminal 3. Yah setidaknya say goodbye to Indonesian cuisines for a while karena selama seminggu kedepan, entah apa yang akan saya makan :D Meski perut terasa sangat lapar, namun nafsu makan seolah hilang. Entahlah mungkin karena sudah terlalu excited menantikan perjalanan kali ini. Namun kemudian krisis kepercayaan, keberanian dan minim keyakinan mulai melanda, bisakah saya melakukan perjalanan keluar negeri pertama kali ini seorang diri? Tapi bismillah, entah mengapa saya yakin this trip would be going well dan saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini yang bersedia menolong saya. 

Pertama kali paspor distempel  keluar dari Indonesia tertanggal 3 Februari 2015. Jangan ditanya perasaan, agak norak memang. Bagi saya yang pertama memang selalu berkesan.
Setengah lima lewat sekian, saya berpamitan dan memutuskan untuk naik ke ruang tunggu keberangkatan untuk sekalian sholat ashar. Delay selama 30 menit-an, akhirnya pesawat take-off pukul 18.00 wib. Pesawat mendarat ontime di bandara Changi sesuai dengan waktu yang tertera di boarding pass yakni pukul 20.30 waktu Singapore (GMT+8). Memasuki gedung utama terminal 1 bandara Changi, saya yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki di bandara luar negeri, cukup dibuat terkesima dengan keren-nya bandara Changi ini. Cukuplah dengan ber-melongo-ria, detik berikutnya saya segera sadar dan bergegas mencari wifi, berkabar dengan teman-teman kantor bahwa I landed safe and sound, and softly. Sekian detik terdiam dan berpikir apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Dan detik berikutnya, yang terlintas di pikiran adalah apapun yang terjadi, saya harus bisa sampai Johor Bahru sebelum tengah malam untuk mengejar pesawat pukul 07.00 esok pagi dari bandara Senai yang akan membawa saya ke Ho Chi Minh City, Vietnam. FYI, Changi-Johor Bahru dan sebaliknya bisa ditempuh melalui jalur darat dengan lama waktu perjalanan sekitar 2 jam-an.

Setelah melewati proses imigrasi kedatangan Singapore, saya segera menuju ke information center dan menanyakan bus yang menuju Johor Bahru. Hanya satu bus dari bandara Changi yang bisa langsung menuju Johor Bahru yaitu Transtar Crossborder Bus yang baru akan ada lagi pukul 23.30. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, saya pun memutuskan untuk naik MRT menuju stasiun Kranji dan kemudian mencari bus menuju JB Sentral atau Terminal Larkin dan dari salah satu tempat tersebut saya berencana menggunakan taksi untuk menuju bandara Senai dengan estimasi biaya tak lebih dari 60 ringgit (atau sekitar Rp 213ribu-an). Rute seperti ini sudah saya siapkan sebagai jalan alternatif atau plan B.

Petunjuk Skytrain di Terminal 1 Bandara Changi  
(Photo copyright: sxosip.in.)
Untuk mencapai terminal 3 (letak stasiun MRT Changi berada) dari terminal 1 harus menggunakan skytrain. Stasiun MRT Changi terletak di basement terminal 3. Skytrain ini gratis dan menghubungkan ketiga terminal yang ada di Changi. Lama perjalanan dari terminal 1 menuju ke terminal 3 ditempuh sekitar tiga menit-an. Tengok sana-sini, kepala terus mendongak ke atas dan mata tak henti-hentinya memperhatikan dengan seksama setiap petunjuk jalan yang tertera. Jujur saya hanya mengandalkan insting berdasar petunjuk yang ada, mengikuti orang-orang yang saya duga juga memiliki tujuan yang sama dan selebihnya membiarkan kaki berjalan entah akan membawa saya kemana.

Kurang lebih seperti inilah suasana di dalam kereta saat pengalaman pertama kali naik MRT di Singapore. 
(Photo copyright: chandrashekarasandprint)
Suasana di dalam kereta sendiri cukup ramai dengan warga Singapore yang pulang dari kantor ataupun aktivitas lain, atau bisa dibilang, penuh dengan generasi 'nunduk' lintas usia. Entahlah, semua sibuk dengan smartphone-nya. Sebagian mendengarkan musik melalui headphone-nya dengan jari lincah memainkan game dan sebagian lain berselancar serta ber-facebook ria (hasil kepo curi-curi pandang mesra (?)). Nampaknya Facebook masih sangat populer di negara ini, agak berbeda dengan Indonesia yang sepertinya sudah mulai beralih ke jejaring sosial yang lain. apalah ini. Saya pun mulai menyadari bahwa people talk less, and maybe it's true that technology allows people to live with less social interaction. Semakin modern dan maju suatu negara, semakin individualis masyarakatnya. Entah darimana saya mendengar kata-kata itu tapi rasa-rasanya benar adanya dengan melihat Singapore. Entahlah, ini hanya pendapat pribadi saya.
Dengan hanya mengandalkan info dan screenshot dari layar handphone mengenai stasiun yang harus saya lalui, dengan memasang muka penuh percaya diri dan meminimalisir bertanya, setelah perjalanan sekitar satu jam-an lebih, melewati 21 stasiun, naik turun ganti kereta karena harus melalui tiga kali transit, akhirnya saya berhasil sampai di stasiun Kranji tanpa nyasar! Rutenya adalah sebagai berikut: Changi – Tanah Merah (transit) – Paya Lebar (transit) – Bishan (transit) – Kranji. Saya tidak mengeluarkan uang sama sekali selama transit di Singapore ini karena untuk naik MRT saya menggunakan kartu EZ Link card (hasil meminjam dari teman kantor di Jakarta). Total cost dari stasiun Changi hingga stasiun Kranji hanya SGD 2.40 (sekitar Rp 22ribu-an).
Train Fare Calculator menghitung biaya dan lama waktu perjalanan MRT. Detil lebih lengkap cek disini
Sayangnya, saat keluar dari stasiun MRT Kranji, bus Causeway Link berwarna kuning yang akan membawa ke Terminal Larkin itu sama sekali tidak nampak. Padahal seharusnya bus beroperasi hingga pukul 23.30. Yang ada hanya bus bertuliskan SBS Transit dengan nomor-nomor tertentu bertuliskan Johor Bahru. Saya belum berani masuk barisan orang-orang yang mengantri bus karena belum yakin bus yang sama yang akan membawa saya ke Terminal Larkin.

Penampakan Causeway Link Bus di Stasiun MRT Kranji (Photo Source: straittimes)
Tampilan kartu EZlink (photo source: mothership.sg)
Lagi-lagi, hampir semua sibuk dengan gadget mereka. Saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengamati keadaan. Sekitar tujuh menit-an, bus bertuliskan tujuan Johor Baru kembali datang. Tapi bukan bus kuning yang saya cari. Saya pun bertanya pada seorang mas-mas ber-ras india mengenai bus yang menuju Terminal Larkin. Ia menunjuk pada bus SBS Transit yang baru datang itu. Saya berlari kecil menuju bus tersebut, bertanya pada bapak kondektur dan ia mengisyaratkan bahwa saya akan menaiki bus yang benar. Tapi telat, bus terlanjur penuh dan saya berdiri terdesak di dekat pintu depan. Setelah menge-tap kartu EZ link, dengan tas segede gaban berdesakan dan orang-orang mungkin agak kesal dengan backpack saya yang memakan tempat, saya sudah pasrah dan -yasudahlah bodo amat-.

Pemberhentian pertama adalah gedung imigrasi Singapore di Woodlands atau Singapore Customs, Immigration and Quarantine (Singapore CIQ). Semua penumpang diharuskan turun untuk melakukan immigration clearance, paspor distempel sebagi tanda bahwa yang bersangkutan telah keluar dari negara Singapore. Sempat diwarnai insiden kecil terjepit di pintu bus dengan tas backpack karena posisi saya yang di dekat pintu dan memang tak beranjak saat pintu terbuka (bodohnya!). Dengan berteriak sambil memasang muka tebal, sekian detik kemudian akhirnya saya berhasil keluar dari jeratan pintu yang terkutuk itu. Keluar dari bus, lagi-lagi, saya hanya mengikuti apa yang dilakukan orang-orang, turun dan tanpa menge-tap kartu. Bus yang akan membawa ke pemberhentian selanjutnya yaitu JB CIQ bisa jadi akan berbeda sehingga sangat tidak disarankan untuk meninggalkan barang-barang di dalam bus.

  'Hello Goodbye' dari Singapura
Tempat imigrasi Singapore berada di lantai 2 gedung Woodlands Checkpoint. Setelah proses imigrasi selesai, maka demikianlah perjumpaan pertama dengan Singapore, tidak lebih dari tiga jam, hanya bersapa 'Hello Goodbye' alias numpang lewat dengan berbekal agak nekat. Selanjutnya, bus yang akan membawa ke pemberhentian berikutnya yaitu JB CIQ (Imigrasi malaysia) berada di lantai 1 gedung Woodlands Checkpoint. Barisan manusia sudah kembali mengular. Setelah membaca setiap petunjuk nomor dan tujuan bus dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, akhirnya saya putuskan untuk ikut mengantri di barisan orang-orang dengan tujuan Terminal Larkin. Nyatanya begitu bus datang semua orang pun naik. Saya tidak tahu mengapa. Akhirnya saya naik juga. Ternyata memang semua bus akan melewati JB CIQ dan semua penumpang harus turun untuk proses imigrasi Malaysia.

Banyak warga Johor Bahru yang bekerja di Singapore dan juga sebaliknya, yang setiap hari harus melewati perbatasan dua negara ini. Itulah sebabnya di jam-jam sepulang kerja, bus akan dipenuhi oleh para pekerja tersebut. Sampai di Johor Bahru Checkpoint atau JB CIQ, semua penumpang turun dan sebagian menge-tap kartu mereka. Lagi-lagi saya ikut-ikutan menge-tap kartu EZ link saya. Belakangan saya paham ternyata dengan menge-tap kartu, itu berarti Anda tidak akan melanjutkan perjalanan dan berhenti di pemberhentian saat itu dan fares akan diketahui dengan memotong otomatis dari saldo di kartu Anda. Biaya bus dari Kranji ke JB CIQ saya lupa berapa persisnya tapi tidak lebih dari SGD 1.5 atau tidak lebih dari Rp 15ribu.

Suasana keimigrasian Malaysia di JB CIQ 
(Photo source: machomikemd)
Imigrasi Malaysia di Johor Bahru terletak di lantai 2 gedung Sultan Iskandar Building, satu komplek dengan bangunan JB Sentral. Setelah proses imigrasi selesai, saya berniat segera turun mencari bus yang menuju Terminal Larkin. Tepat sebelum escalator, berdiri seorang bapak paruh baya berseragam, yang saya duga merupakan seorang polisi diraja Malaysia atau mungkin petugas keamanan gedung imigrasi. Saya iseng bertanya mengenai bus yang menuju bandara Senai dan beliau tampak sedikit terkejut mendapati saya yang seorang diri dan akan pelesiran di hampir lewat tengah malam. Saya pun menceritakan keadaan saya yang harus sampai di bandara Senai karena jam 07.00 esok pagi saya harus terbang ke Vietnam. Setelah berbincang beberapa menit dengan bahasa campuran ala-ala,  Bahasa-Melayu-English, bapak polisi itu lalu bertanya dimanakah saya akan menginap malam itu, saya pun menjawab "ehm- I had no idea about it". Entahlah mungkin beliau kasihan pada saya yang kemudian menyarankan untuk beristirahat di surau atau musholla perempuan karena tidak akan ada tempat bagi saya untuk bermalam di bandara Senai. Bandara Senai memang bukan bandara yang beroperasi 24 jam sehingga jikalau pun saya sampai di Senai malam itu, bandara sudah pasti tutup. Betapa bersyukurnya saya dipertemukan dengan beliau yang membantu memastikan ke bagian informasi mengenai bus yang akan langsung menuju bandara Senai pukul 04.45 esok hari dan terutama telah membantu menghindarkan saya dari menjadi gelandangan di hari pertama traveling seorang diri.

Salah satu sudut bangunan imigrasi Johor bahru yang menghubungkan terminal bus di lantai 1 
(Photo source: locationshub)
Sepanjang jalan menuju surau, berulang kali beliau menanyakan apa benar saya sudah mengantongi izin dari orang tua mengenai solo backpacking saya ini. Entahlah, mungkin beliau hanya ingin memastikan bahwa saya bukanlah gadis yang kabur dari rumah (karena dijodohkan), semoga beliau tidak berpikir demikian :D. Beliau juga mewanti-wanti untuk memasang alarm pukul 04.00 agar tidak tertinggal bus. Kami pun berpisah dan saya berulang kali mengucap terimakasih pada bapak yang sungguh saya bahkan lupa menanyakan namanya. Semoga di lain kesempatan saat berkunjung ke Johor Bahru lagi, kiranya saya bisa bertemu dengan beliau setidaknya untuk sekedar menanyakan nama. :)

Surau atau musholla perempuan ini terletak di sebelah kiri sebelum memasuki hall untuk proses imigrasi. Agak nyempil dan dari luar memang tidak terlihat seperti surau apalagi tulisan female prayer room di pintu masuknya yang nyaris tidak terlihat. Memasuki musholla, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menusuk tulang. Tempat sholat sendiri cukup luas dan nyaman namun dalam keadaan gelap, sepi dan tak berpenghuni. Hanya lampu di tempat wudhu saja yang menyala. Saya kemudian istirahat sejenak, bersiap untuk beberes dan sholat, membongkar backpack dan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Jam sudah menunjuk lewat dari tengah malam. Selesai semua tanggungan, siap rebahan, satu dua hingga kira-kira tujuh orang, satu persatu mulai masuk ke ruangan. Sepertinya para pekerja keimigrasian Malaysia yang juga berniat untuk rebahan. Sempet dihinggapi perasaan takut dikira TKW yang mau cari pekerjaan. Jangan salahkan keadaan yang sudah macam gelandangan. Tapi sungguh pun luar biasa untuk sebuah pengalaman pertama backpacking keluar negeri sendirian. Subhanallah  saya percaya tidak ada sesuatu yang tidak sengaja, semua adalah rencana-Nya. Termasuk dipertemukan dengan bapak polisi baik hati yang membuat hari pertama saya tidak harus tidur sembarangan di jalanan. Saya menutup hari dengan rasa syukur tiada henti. Alhamdulillah saya siap untuk pengalaman luar biasa lainnya yang telah menanti. Nice trip ahead!

PS. Beberapa foto di postingan ini saya ambil dari beberapa sumber. Memang di hari pertama saya tidak banyak mengambil foto karena belum berpikir untuk menulis blog dan hari pertama memang sungguh sudah sibuk dengan ribetnya urusan mencari jalan dari satu tempat ke tempat lain. 


Berikutnya,  -- Surprisingly Ho Chi Minh City. Bertemu Travelmate (002) --

You May Also Like

0 comments