Surprisingly Ho Chi Minh City. Bertemu Travelmate (002)

by - May 17, 2015


Are you ready for Ho Chi Minh City?
Solo Trip Pertama, Hari Kedua, Beranjak ke Negara Ketiga. 
Xin chào Vit Nam!

February 4, 2015. Day 2: Johor Bahru - Ho Chi Minh City (Saigon)

Hari berganti Rabu, 4 Februari 2015. Setelah segala ketidaktahuan, ketidaksengajaan dan keberuntungan yang menuntun saya terselamatkan dari menjadi seorang gelandangan di malam pertama dalam perjalanan pertama keluar negeri seorang diri, akhirnya hari ini saya akan terbang ke Vietnam. Beranjak ke negara ketiga, menuju sebuah kota di bagian selatan Vietnam, Ho Chi Minh City. Hari masih bisa dibilang pagi buta, saya terbangun dari tidur-tidur ayam. Meraba-raba kacamata lalu melihat jam tangan. Ternyata masih sekitar jam dua-an. Dingin semakin menusuk tulang, sementara mata sudah tak mau lagi terpejam. Mencoba membongkar tas lagi mencari sesuatu yang bisa dimakan, tapi hanya sebatas niatan dan kemudian kembali rebahan. Hanya mampu bertahan sebentar dan beberapa menit kemudian terbangun dengan semua yang bisa digunakan untuk menghalau dingin, telah terlapisi di badan. Masih, menusuk tulang tapi sudahlah memang dingin ini seolah tiada berkesudahan. Sekian menit berlalu hanya dengan duduk termenung di keheningan malam. Jam 3 lebih 20menitan, saya putuskan untuk beberes karena mata sudah tak bisa lagi dibujuk untuk diistirahatkan.
Gambaran terminal bus di lantai 1 gedung imigrasi JB CIQ. (Photo source: locationshub )
Jam empat-an pagi, saya putuskan untuk langsung menuju ke lantai 1 tempat bus causeway link yang akan menuju ke Bandara Senai. Sesampainya di tempat, bus belum nampak. Mata kemudian menangkap sebuah convenient store (semacam ind*mart kalo di Indonesia) dan secara otomatis kaki berbelok masuk ke dalam toko mencari air mineral yang memang sudah beberapa jam terakhir ini begitu saya rindukan (lebay banget maap). Bak sebuah oase di tengah padang pasir, akhirnya saya menemukan air! Harganya, hanya setengah ringgit (sekitar Rp 1800an).. 
Penampakan bus causewaylink airport shuttle yang menuju bandara Senai
Selepas keluar dari toko, tak menunggu lama, bus kemudian datang sekitar pukul setengah lima-an. Sekedar informasi, bagi penumpang Air Asia, untuk naik bus causeway link ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Rute perjalanan bus ini dari bandara Senai (termasuk JB Sentral) ke Singapore (di beberapa titik) dan sebaliknya. Keberangkatan pertama dari JB Sentral menuju bandara Senai adalah pukul 04.45 dan bus ini bisa digunakan dengan terlebih dahulu mencetak eticket yang hanya bisa didapat dengan memasukkan kode booking penerbangan Air Asia. Eticket ini juga hanya berlaku di hari dan tanggal yang sama dengan flight Air Asia tsb. Sejujurnya, saya pun iseng mencetak eticket ini karena memang tidak terlalu berharap akan dapat menemukan bus ini di pagi buta mengingat saya juga tidak berencana untuk bermalam di JB Sentral. Entahlah, saya pun daftar dan cetak saja, dan mungkin memang begitulah rencana Tuhan dalam menolong saya. Tak ada sesuatu yang kebetulan, semua sudah diatur, termasuk pertemuan dengan bapak polisi di malam sebelumnya yang akhirnya membuat saya bisa mencapai Senai. Semua yang berawal dari no purpose ternyata justru disitulah jalannya dan saya bersyukur telah melakukannya.

Saya segera menuju bus kuning tersebut dan bapak supir yang baik hati mempersilahkan saya masuk. Saya hendak membayar dengan kartu EZlink dan beliau menolak. "No no. You can't use it. Eticket please". Lagi-lagi saya bersyukur telah mencetak eticket ini. Saya pun menyerahkannya, beliau mulai memindai kertas yang saya berikan dan lalu dengan sumringah beliau mengatakan "Yes. It works! You know, I can't receive cash or money and I will get paid for this only (sambil menunjuk barcode yang ada di kertas eticket yang saya berikan)"
Di pagi buta, dalam sebuah bus yang kosong menuju bandara Senai
Pukul 4.45 tepat, bus berangkat. Menaiki bus ini mengingatkan saya pada acara tv di Korea yang sering mengambil shoot di dalam bus yang interiornya sama persis dengan bus ini. Sayangnya tak seperti di drama Korea yang romantis, di dalam bus ini hanya ada saya seorang dan pak sopir. krik krik.. Perjalanan JB Sentral menuju bandara Senai memakan waktu lebih kurang 40menit-an. Layaknya melintasi jalanan tol Jakarta-Merak di malam hari, tak ada yang bisa dilihat karena memang langit yang masih gelap hanya bertemu dengan lampu-lampu jalanan yang masih belum padam. Jalanan pun sangat lengang dan bus dengan sangat leluasa menambah kecepatan. Pukul 05.25, bus sampai di bandara Senai dan saya pun berpamitan dengan bapak sopir, mengucap terimakasih dan tak lupa beliau melempar salam perpisahan khas orang Malaysia: "Jumpe lagii."

Bandara Senai tergolong bandara yang tidak terlalu besar. Dari luar, bandara ini terlihat cukup megah namun begitu masuk, bandara ini lebih tampak seperti mall dengan jajaran toko-toko yang masih tutup. Selesai cetak boarding pass, saya segera menuju ke pintu keberangkatan dan suasana Vietnam mulai terasa. Barisan orang-orang berkulit putih bermata sipit khas Vietnamese mulai menghiasi depan pintu keberangkatan. Pesawat take off tepat pukul 07.00. Matahari belum sepenuhnya keluar dari peraduan. Sinarnya masih malu-malu menembus jendela pesawat. Mata sudah terkantuk berat namun tetap berontak tak mau istirahat. Perjalanan udara Johor Bahru-Ho Chi Minh City ditempuh dalam waktu 2 jam. Pesawat mendarat tepat pukul 08.00 waktu setempat (GMT+8) di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City.


Segera setelah memasuki gedung utama bandara, saya bergegas mencari wifi. Sudah lebih dari 10 jam saya tak bisa berkabar dan nyatanya baru kali ini saya mendapati wifi di sebuah bandara yang sangat bapuk alias tak kunjung bisa connect. Saya putuskan menyerah dan segera menyelesaikan proses imigrasi untuk selanjutnya keluar bandara dan memulai petualangan lost in Ho Chi Minh City
Letak bus 152 yang bisa terlihat begitu keluar dari pintu utama bandara Tan Son Nhat (Photo source: wikimedia)
Keluar dari bandara, perut tiba-tiba berontak dan segera setelahnya terlihat sebuah resto kecil cepat saji yang kemudian seketika menggerakkan kaki mendekatinya. Kepala terdongak, mata melekat di tiap alfabet yang bisa dibaca. Sekelebatan tampak dua perempuan berkerudung yang saya yakini orang Malaysia, memesan menu makanan di tempat yang sama. Sempat pede untuk memesan juga namun detik berikutnya urung karena melihat tulisan ham, pork dan sejenisnya. Kaki melipir menjauh, membongkar tas lagi mencari cemilan. Setelah dirasa cukup mengajak perut berkompromi, saya pun segera mencari bus bernomor 152 yang menuju ke pusat kota yakni ke pasar Ben Tanh. Bus ini biasanya langsung terlihat di seberang jalan sekitar 100 meter dari pintu keluar bangunan utama bandara. Bus yang jika di Jakarta tampak seperti Kopaja dengan versi setingkat lebih bagus ini hanya membebankan tarif yang relatif murah yaitu hanya VND 5000 atau sekitar 3000 rupiah saja.
Saya diharuskan membayar seharga dua tiket. Mungkin karena backpapack saya yang memakan tempat
Begitu sampai di seberang, bus sudah terlanjur jalan. Namun tak berapa lama bus berikutnya datang. Saya beserta beberapa orang yang sudah menunggu kemudian masuk ke dalam bus. Sekian detik mengamati keadaan sekitar dan memutuskan duduk di belakang bangku sopir yang masih kosong. Seorang perempuan yang saya tak yakin apakah orang lokal ataukah turis, langsung menjadi bidikan saya untuk saya tanyai tentang arah menuju Bui Vien (lokasi hostel yang sudah saya pesan sebelumnya) dari arah Ben Tanh. Cukup mengejutkan ternyata saya bertemu dengan sesama orang Indonesia. Namanya Muti, seorang perempuan seumuran yang juga berasal dari Jakarta, yang juga melakukan perjalanan kali ini seorang diri. Kami lalu mengobrol cukup panjang dan kemudian memutuskan untuk jalan bareng meng-explore Ho Chi Minh City hari itu. Muti juga belum punya rencana akan bermalam dimana sehingga saya tawarkan untuk menginap di hostel yang sama dengan saya. Kami cukup heboh dan berisik hingga sesekali membuat orang-orang di dalam bus menaruh perhatian pada kami. 
Bus 152 dulunya lebih didominasi warna hijau kini berubah menjadi putih biru (Photo source: etraveltips)
Bus tak kunjung jalan dan setelah menunggu sekitar lima menit-an, tanpa alasan sang sopir yang berbicara bahasa yang bahkan sepatah kata-pun tak bisa saya pahami, meminta kami turun lagi. Kami turun dari bus dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan seorang lelaki berpenampilan orang kantoran tiba-tiba ikut nimbrung dan menjelaskan sesuatu yang saya bahkan lupa apa itu. Belakangan kami tahu lelaki itu bernama Ernest, seorang warga negara Singapore yang sepertinya sudah sering melakukan perjalanan ke kota ini.  Kami pun berkenalan, berbincang dan dia tahu kami dari Indonesia karena sebelumnya memperhatikan dan mendengarkan percakapan kami. 
Berkunjung ke Ho Chi Minh City harus siap menghadapi lalu lintas seperti ini
Beberapa menit kemudian kami dipersilahkan naik lagi ke dalam bus. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, kami berbincang dan sesekali Ernest menjelaskan tentang kota yang juga dikenal dengan nama Saigon ini. Terutama, situasi lalu lintas kotanya yang luar biasa dan kami harus siap menghadapinya. Beberapa kali bus mengerem mendadak dan bahkan sesekali nyaris menabrak pengguna jalan lain. Kami bertukar pikiran dan Ernest juga mengajarkan 'teori' menyeberang jalan di Saigon. 
Dalam perjalanan menuju Pasar Ben Tanh yang terletak di distrik 1 kota Ho Chi Minh City
Suasana lalu lintas kota Ho Chi Minh City yang tampak dari dalam bus menuju pasar Ben Tanh
Dua motor saling serempet dan tampaknya hal seperti ini memang sudah biasa terjadi di Ho Chi Minh City
Ho Chi Minh City, surga bagi para pengendara motor
Salah satu sudut kota Ho Chi Minh City yang saya ambil dari dalam bus menuju Pasar Ben Tanh
Sudut kota Ho Chi Minh City yang lain dalam perjalanan menuju pasar Ben Tan
Di dalam bus 152, sebuah bus non-ac yang tidak jauh berbeda dengan Kopaja di Jakarta
Setelah perjalanan lebih kurang 30 menit-an, kami pun sampai di pasar Ben Tanh. Ernest yang seharusnya tidak ikut turun karena memang tujuannya berbeda dengan kami, memutuskan untuk ikut turun dan menawarkan diri untuk menmberikan 'kursus kilat' cara menyeberang jalan. Kami sangat bersyukur dan berterimakasih padanya karena kebaikannya yang bersedia membantu kami menghadapi lalu lintas di Saigon. Sensasi menyeberang jalan di Saigon yang luar biasa mampu membuat orang-orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota ini akan terpana. Bagaimana tidak, klakson berbunyi secara bersamaan dari berbagai arah. Kami harus saling bergandengan tangan, salah satu memperhatikan sebelah kiri dan yang lain fokus dari arah sebelah kanan. Saling mengkodekan jika dua arah sama-sama aman.
Pasar paling terkenal di Ho Chi Minh City yang juga ikon dari kota ini, Pasar Ben Tanh.
Dari terminal bus tempat kami turun, kami harus menyeberang jalan untuk sampai ke pasar Ben Tanh. Niatan kami hanya sampai Ben Tanh tanpa masuk ke dalam pasar. Namun pada akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat berputar-putar ke dalam area pasar. Tampaknya cukup banyak orang Malaysia yang berkunjung ke pasar ini. Terbukti dari beberapa kali saya disapa orang lokal yang menawarkan barang dagangannya dengan bahasa Melayu dan terlihat juga cukup banyak orang-orang berkerudung khas orang Malaysia di pasar Ben Tanh ini. Setelah berputar-putar tidak jelas sekitar lima menit-an, si Ernest kemudian memutuskan pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri untuk berfoto selfie bertiga sebagai kenang-kenangan. Ernest terlihat senang dan memberikan alamat emailnya untuk dikirim hasil foto kami bertiga. Kami pun berpisah, dan Ernest kembali melanjutkan perjalanan. 
Ernest, Muti and me. Our very first wefie in Ho Chi Minh City!
Setelah berpisah dengan Ernest, kami yang dari awal memang tidak berniat masuk ataupun berbelanja akhirnya memutuskan untuk keluar dari pasar Ben Tanh dan mengunjungi beberapa tempat wisata di distrik satu kota Ho Chi Minh City yang sudah ada dalam bucketlist saya. Muti pun setuju dengan itinerary yang sudah saya susun sebelumnya dan kami siap menjelajah. Tantangan pertama, sudah pasti apalagi kalau bukan menyeberang jalan. Tanpa Ernest inilah ujian pertama yang sebenarnya. Hanya butuh modal keberanian untuk menyeberang jalan di Saigon. Saya dan Muti saling berpegang erat, berbagi tugas masing-masing fokus ke satu arah yang berlawanan. Jika dirasa aman, kami saling mengkodekan dan siap menyeberang jalan. Kami sukses menyeberang jalan di percobaan pertama dan berhenti di sebuah taman kota yang terletak di depan pasar Ben Tanh. Kami bersiap melakukan ritual khas. Yes, selfie is a must! Jam menunjukkan pukul 10.00an dan panas terasa tepat di ubun-ubun. Cuaca Ho Chi Minh City sungguh panas sekali!
Salah satu sudut ikonik dari taman yang ada di bunderan yang terletak persimpangan jalan ini.
Masih di sekitar pasar Ben Tanh, di salah satu sudut taman kota.
Sudut lain taman kota yang terletak dari di depan pasar Ben Tanh
Kami menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit-an dengan hunting foto dan selfie plus istirahat duduk-duduk mencari pohon rindang, memakan camilan dan sempat beberapa kali menjadi perhatian orang lokal yang melintas karena tongsis yang kami bawa, sampai akhirnya kepincut sunglasses seharga 40ribuan rupiah. Memang, di Vietnam yang notabene mata uangnya yang nilainya lebih rendah dari Rupiah membuat saya agak terlena karena berasa agak kaya (hanya di Vietnam, kasian ya). Kami pun bersiap ke tempat wisata pertama yaitu Independence Palace.  

Ho Chi Minh City adalah kota yang menuntut pelancong harus selalu waspada. Selain karena lalu lintas kota dan pengendaranya yang agak ngawur (karena lebih parah daripada di Jakarta menurut saya), juga karena banyaknya kasus scam atau penipuan yang banyak dialami turis yang berkunjung ke kota ini, mulai dari penipuan taxi, penjambretan sampai dengan penipuan berkedok menawarkan air kelapa (cerita lebih lengkapanya akan saya ceritakan di postingan berikutnya). Oleh karenanya, selama berkeliling kota ini, kami saling mengingatkan agar tak sampai lengah. Inilah salah satu manfaat bertemu travelmate, simbiosis mutualisme antar sesama solo backpacker.

Kami menyeberang lagi, melanjutkan perjalanan dan mampir sekitar lima menit-an melihat-lihat keadaan di sebuah taman yang lebih luas dari bunderan yang ada di depan pasar Ben Tanh. Berikutnya kami putuskan untuk mencari makan siang karena sama-sama mulai lapar dan saya mengusulkan pada Muti untuk mencoba makanan khas vietnam, Phở. Muti setuju dan kami berputar-putar mencari makanan halal masih di sekitar kawasan belakang pasar Ben Tanh. Banyak resto halal yang berjajar namun kami memutuskan makan Phở karena mencicipi makanan lokal adalah salah satu yang ada dalam daftar my things to do when I do traveling. Kami pun menemukan resto Phở yang halal yaitu Kedai Halal Amin 2 yang sepertinya merupakan milik orang Malaysia. Kami yang sudah mulai kelaparan, kelelahan dan kepanasan dengan cuaca Ho Chi Minh City yang terik, segera memesan minuman khas Vietnam, sebuah air jeruk limau yang luar biasa segar dan satu buah teh lemon untuk Muti berikut dua porsi Phở.
(Depan) Air perasan jeruk limau dengan jeruk nipis di dalamnya dan teh lemon (belakang)
The most famous typical Vietnamese food. Yes it's Phở!
Pho yang kami makan terdiri dari mie putih dan kuah kaldu dengan dedaunan seperti daun bawang dan daun -yang saya tidak tahu namanya- dengan irisan daging lembu diatasnya dengan jeruk nipis dan sambal -yang tidak pedas dan tidak terasa seperti sambal- disajikan terpisah. Harga untuk satu porsi Pho adalah VND 50.000 dan untuk satu minuman adalah VND 10.000. Kami berdua total menghabiskan VND 120.000 (sekitar 60ribuan rupiah) untuk makan siang kali ini. Rasa Pho sendiri bagi lidah saya tidaklah terlalu istimewa dan bisa dikata sangat-sangat biasa. Namun saya tidak menyesal mencobanya karena setidaknya saya tidak akan mati penasaran dengan rasa Pho sebenarnya. Terlebih lagi mencoba langsung di negara asalnya dan menurut saya, it's still worth to buy.
Harga makanan di Vietnam tergolong murah dan tak jauh berbeda dengan Indonesia
Hingga hari kedua memasuki tengah hari, solo trip saya berjalan dengan cukup baik. Saya akhirnya berhasil mencapai bandara Senai di pagi buta dan terbang ke negara ketiga, Vietnam. Selain itu hal yang cukup mengejutkan adalah semuanya berjalan hampir tanpa hambatan saat menginjakkan kaki pertama kali di Ho Chi Minh City bahkan seperti bonus bagi saya bisa mengenal orang-orang baru dan mendapatkan travelmate. Meski demikian, saya sudah menyiapkan kewaspadaan tinggi untuk menjelajah kota ini. Namun tetap saja cukup mengejutkan bagi saya melihat dengan kepala sendiri dan berhadapan langsung dengan lalu lintas kota yang luar biasa yang sebelumnya hanya saya baca di beberapa artikel dan blog. Another suprisingly Ho Chi Minh City juga terjadi di setengah hari berikutnya di kota ini, mulai dari terkena scam hingga tersesat di dalam kota yang akan saya ceritakan di postingan berikutnya.
Ho Chi Minh City (juga dikenal dengan Saigon) merupakan kota terbesar di Vietnam bagian selatan. Berbeda dengan Hanoi, ibukota Vietnam yang terletak di bagian utara yang memiliki iklim yang cenderung dingin, Saigon memiliki iklim yang panas hampir di sepanjang tahun. Kota ini pernah dijajah Perancis sehingga sedikit banyak ditemui bangunan yang memiliki pengaruh khas Perancis.

Berikutnya,  -- Ho Chi Minh City bagian kedua (003) --
Cerita sebelumnya -- Solo Trip Indochina. Tengah Malam Tembus Perbatasan Singapore-Johor Bahru (001) --



You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com