Ho Chi Minh City bagian kedua, Tertipu Rayuan Kelapa, Tersesat Di tengah Kota (003)

by - June 26, 2015

Masih dalam misi menjelajah kota Ho Chi Minh City (foto: doc pribadi)
Masih di hari kedua, Rabu 4 Februari 2015. Masih bersama Muti di setengah hari berikutnya di Ho Chi Minh City, dalam misi pribadi ke luar negeri pertama kali seorang diri. Ho Chi Minh City, kota terbesar di selatan Vietnam yang juga dikenal dengan nama Saigon, merupakan bekas jajahan Perancis sehingga sedikit banyak bangunan di kota ini memiliki sentuhan arsitektur kolonial dan beberapa diantaranya ditemui sebagai tempat wisata yang dapat dikunjungi.
Alkisah masih di setengah hari berikutnya di kota ini. Cerita sebelumnya disini.
Mayoritas tempat wisata di Saigon berpusat di distrik satu dan antar tempat tsb memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki hingga kami pun berniat melakukan walk city tour. Selain itu kepopuleran distrik satu juga disebabkan adanya kawasan backpacker yang terpusat di Pham Ngu Lao Ward diantaranya di jalan Pham Ngu Lao, De Tham dan Bui Vien. Bui Vien merupakan lokasi Hongkong Kaiteki Hotel, penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya. Kami mengutak-atik itinerary agar dapat melakukan walk city tour sekaligus bermuara langsung ke jalan yang menuju Bui Vien. Starting point adalah Ben Tanh dan rute walk city tour kami adalah Independence Palace-Saigon Central Post Office-Dong Khoi-Saigon Central Mosque-Bui Vien (Hostel).
Independence Palace, tujuan pertama walk city tour kami (Photo: openbuilding)
Setelah kenyang dengan menu santap siang Pho, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Independence Palace. Tempat yang juga dikenal dengan nama Reunification Palace ini adalah museum yang dulunya merupakan istana kepresidenan Vietnam Selatan sebelum akhirnya bergabung dengan Vietnam Utara menjadi negara Vietnam yang sekarang. Bekal amunisi petunjuk  kami hanyalah beberapa lembar kertas peta yang saya cetak sebelumnya. Hari semakin siang menuju pukul 11.00, sementara kami terus berjalan dibawah teriknya matahari dan bertanya kesana-kemari pada orang-orang lokal di jalanan yang kami lalui. Capek semakin terasa di bahu dan kaki namun untunglah setelah beberapa lama akhirnya kami berhasil kembali ke jalan yang benar dan diridloi. :)
Kami terus berjalan hingga tersesat sampai ke jalan Lê Thánh Tông
Masih berkutat di jalan Lê Thánh Tông dan kami putuskan untuk berbalik arah
Selama lebih kurang satu jam-an, kami hanya berputar-putar, berjalan menyusuri trotoar mencari nama jalan dan akhirnya sampailah kami di sebuah jalan bernama Nguyễn Trung Trực yang bermuara pada pertigaan di sisi kiri kawasan bangunan Independence Palace. Dari info yang saya baca sebelumnya, museum ini tutup di jam makan siang dan akan buka kembali pukul 13.00 sehingga kami putuskan menghabiskan waktu dengan terlebih dahulu beristirahat di kawasan pedestrian di bawah pohon-pohon rindang. Menghirup udara sejuk Vietnam dan mengamati aktifitas orang lokal terbukti membantu me-refresh pikiran dan sejenak melupakan pegal-pegal di badan akibat jalan kaki yang terbilang lumayan dengan membawa backpack yang memang tak ringan.
Salah satu sudut ruas jalanan Nguyễn Trung Trực
Sepanjang jalan Nguyễn Trung Trực juga banyak ditumbuhi pepohonan rindang
Tak masalah meski ngemper di trotoar seperti ini. Toh tak ada yang kenal juga :D
Kami melanjutkan perjalanan hingga di sebuah pertigaan kami bertemu seorang lelaki paruh baya penjual minuman kelapa. Kami memang terlihat seperti turis -dengan backpack dan membawa peta plus terlihat kebingungan- meski tampang tak demikian. Si lelaki mendekati kami, berusaha akrab dan membantu menunjukkan jalan menuju Independence Palace, Notre Dame Cathedral dan Saigon Central Post Office yang letaknya memang berdekatan. Kami bersyukur dan berterimakasih atas petunjuk yang ia berikan. Kami segera pamit bersiap melanjutkan perjalanan dan disinilah kami tertipu rayuan kelapa. Demikianlah adanya karena berikutnya si lelaki menawarkan kami untuk berfoto dengan barang dagangannya. Perasaan mulai tak enak menghampiri tapi kami masih berpikir positif. Si lelaki tsb terus berusaha hingga kami akhirnya mengalah lalu mengiyakan dan yah kami pikir mumpung di negara orang, why can't we act like locals? Jadilah kami berfoto memanggul barang dagangan si lelaki itu. Sempat was-was saat menyerahkan kamera dan hape yang digunakan untuk memotret kepada lelaki itu -takut dibawa lari-. Alhamdulillah yang ditakutkan tidak terjadi. 
Wajah-wajah 'bahagia' dua perempuan yang belum sadar terkena penipuan
Kami senang diberikan kesempatan untuk melakukan hal konyol tsb -berfoto dengan memanggul dagangan kelapa- dan berniat untuk langsung pamit undur diri. Namun usaha kami gagal karena berikutnya yang lelaki itu lakukan adalah dengan secepat kilat membukakan sebuah kelapa dan menyuruh kami membelinya. Dari situ kemudian saya sadar bahwa inilah scam yang tersohor di kota ini. Saya memberitahu Muti bahwa scam seperti ini sudah sering terjadi di Ho Chi Minh City yang harus dihindari dan berikutnya ia akan meminta bayaran mahal untuk sebuah air kelapa. Benar saja, ia meminta VND 100.000 untuk sebuah kelapa. Kami pun menolak untuk membelinya tapi satu buah kelapa sudah terlanjur dibuka dan ia berkata kami harus membayarnya. Kami yang tak tahu harus melakukan apa akhirnya pasrah dan mengiyakan saja. Ia pun kemudian bersiap membuka kelapa kedua tapi kami dengan tegas menolak. Kami bernegosiasi dan bertemu di harga VND 50.000. Deal, kami bayar dan langsung pergi. Memang, tidak seberapa harganya jika dibandingkan dengan scam dengan modus yang sama yang pernah saya baca sebelumnya. Korbannya pernah dipaksa membayar VND 200.000 hingga VND 2.000.000 (100rb-1juta rupiah) untuk sebuah kelapa. Kami pun bertekad untuk lebih berhati-hati dan tak mau lagi terkena scam -apapun bentuknya- untuk yang kedua kalinya. Baru beberapa jam di Ho Chi Minh City, belum juga menikmati kota ini namun scam yang sudah diantisipasi untuk dihindari malah datang tanpa disadari. Well, back on the track.
Gereja Notre Dame Cathedral yang letaknya persis bersebelahan dengan Saigon Central Post Office
Kami meneruskan perjalanan, men-skip Independence Palace yang akan kami kunjungi setelah museum tersebut buka kembali pukul 13.00. Jam masih belum lewat di angka 12 dan kami kemudian sampai di seberang jalan dari Saigon Central Post Office dengan Notre Dame Cathedral yang terletak persis di sebelahnya. Notre Dame Cathedral yang dalam bahasa Vietnam dikenal dengan nama Nha Tho Duc Ba Sai Gon ini merupakan gereja katedral peninggalan Perancis yang dibangun pada 1863 dan masih berdiri megah di persimpangan jalanan Saigon.
Burung-burung merpati di trotoar menemani istirahat sejenak kami
Kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, kembali duduk-duduk di trotoar, meregangkan otot-otot yang kembali kaku, bermain dengan burung-burung merpati, melihat-lihat sudut pusat kota Ho Chi Minh City dengan segala kesibukan lalu lintas dan masyarakatnya. Ada beberapa anak usia sekolah yang sedang latihan Marching Band, ada yang sekedar lewat dan istirahat seperti kami yang hanya duduk-duduk di bawah pohon. Beberapa ada yang memberi makan burung-burung merpati dan tampak banyak wira-wiri bule-bule. Ho Chi Minh City memang kota yang cukup menjadi primadona bagi para wisatawan mancanegara terutama bagi kalangan backpacker atau budget traveler -seperti kami-, karena segala sesuatu yang memang terkenal murah disini. :)
Banyaknya pohon di tempat ini menjadi tempat santai dan berteduh warga lokal dari panasnya cuaca Saigon
Wefie dengan merpati yang ... gagal
Kami sempat didatangi oleh beberapa anak muda yang dari pendengaran saya -semoga tidak salah-, meminta sumbangan untuk sebuah acara charity. Saya tak tahu pasti karena kurang bisa memahami bahasa inggris yang mereka ucapkan. Kami memohon maaf dan menolak secara halus karena kami sudah terlanjur trauma dengan scam yang kami alami sebelumnya dan menjadi gampang curiga jikalau hal tsb adalah scam dengan modus lainnya. Kami segera bergegas menuju Saigon Central Post Office. Sebelum itu, Muti ingin berfoto di taman yang ada di depan gereja dan saya membantunya mewujudkan keinginannya -baca: saya juru fotonya-. :D Salah satu misi Muti berkunjung ke Ho Chi Minh City adalah mengunjungi gereja tsb dan sekaligus melakukan ibadah pada hari minggu mendatang.
Bangunan Saigon Central Post Office tampak dari luar
Berikutnya, sampailah kami di Saigon Central Post Office. Kebanyakan tempat wisata si Saigon memang tidak mengenakan biaya masuk alias gratis. Salah satunya yaitu di kantor pos yang masih aktif di kota Ho Chi Minh City ini. Kami masuk ke dalam gedung yang dari luar berwarna kuning ini dan mendapati di dalam gedung terisi ramai oleh para wisatawan asing. Sentuhan arsitektur khas kolonial eropa terasa mendominasi interior di dalam gedung. Selain berfungsi sebagai tempat dengan segala hal yang berkaitan dengan surat-menyurat, di dalam gedung ini pengunjung dapat mengambil brosur gratis berisi info wisata Vietnam serta terdapat penjualan pernak-pernik, buku-buku dan souvenir khas Vietnam yang dipamerkan di etalase-etalase yang dapat dibeli secara langsung oleh pengunjung.
Interior di dalam gedung Saigon Central Post Office
Banyak turis mancanegara yang mengunjungi tempat ini, terutama orang-orang Eropa.
Selain menjadi kantor pos, tempat ini juga menjadi tempat jual beli souvenir khas Vietnam dan sejenisnya
Saking banyaknya turis, anak-anak sekolah di Saigon sering menjadikan kantor pos ini sebagai tempat mereka mempraktekkan kemampuan bahasa inggris atau sekedar melengkapi tugas sekolah mereka.
Setelah bergantian melihat-lihat di dalam gedung dan dirasa cukup puas, saya dan Muti kemudian berembuk untuk menentukan tujuan berikutnya. Kami putuskan untuk men-skip semua tempat wisata -termasuk Independece Palace- dan langsung menuju ke daerah Bui Vien letak hostel kami berada. Alasannya, kami sudah kelelahan dan ingin segera rebahan serta meletakkan tas di hostel agar bahu tak harus menderita lagi. Kami berencana untuk melihat Water Puppet Show di daerah dekat Ben Tanh pada pukul 17.00 sehingga kami akan memiliki waktu beberapa jam untuk beristirahat di penginapan sambil men-charge kembali energi kami.
Kami kembali meneruskan perjalanan menuju Bui Vien
Kami juga men-skip Dong Khoi dan Saigon Central Mosque. Dong Khoi adalah nama sebuah jalan di Vietnam yang merupakan rumah bagi bangunan-bangunan khas peninggalan Perancis, yang berisi jajaran toko-toko souvenir, art gallery, cafe, dll. Menyusuri Dong Khoi street akan bertemu pada jalan yang menuju Saigon Central Mosque sehingga menikmati jalanan Dong Khoi adalah seperti pribahasa sekali dayung dua pulau terlampaui. Selain beribadah, alasan mengunjungi Saigon Central Mosque adalah karena saya juga ingin mencicipi Pho halal yang dijual di sekitar daerah masjid. Namun karena sebelumnya sudah menemukan Pho halal di daerah Ben Tanh, maka saya pun mengikhlaskan untuk men-skip Saigon Central Mosque. Kelelahan yang akhirnya menstimulus otak untuk berpikir bagaimana caranya kami bisa sampai di penginapan secepatnya.
Potret kehidupan di Saigon (1). Pedagang kaki lima ala Vietnam.
Potret kehidupan di Saigon (2). Seorang nenek menunggu belas kasih orang-orang yang melintas di depannya
Masih bersama Muti, terus menyusuri sudut-sudut kota Saigon, mencari jalan menuju penginapan
Kami melanjutkan perjalanan  lagi  kemudian berhenti untuk istirahat lagi hingga sudah tak terhingga sudah berapa kali kami jalan-istirahat-jalan lagi-istirahat lagi. Kami melewati Dong Khoi secara tak sengaja dan yah kami hanya lewat saja hingga akhirnya kami bertemu kembali dengan pasar Ben Tanh. Kami kembali ke titik awal dan dari informasi yang sudah saya kumpulkan, Bui Vien tidaklah jauh dengan Ben Tanh. Kami senang karena secercah sinar harapan dari kasur penginapan sudah mulai terlihat memanggil kami yang kelelehan. Dengan pede saya memimpin jalan, melihat kembali peta yang saya bawa dan menentukan jalan mana yang harus kami lalui. Semakin lama berjalan, kami semakin tak yakin dan benar saja ternyata kami semakin jauh dari target. 
Tanpa sengaja menemukan Dong Khoi street. Beberapa ornamen cantik menghiasi jalan ini
'Wall of fame'-nya Vietnam turut menghiasi sepanjang Dong Khoi Street
Area pedestrian di Dong Khoi Street
Kami bertanya pada orang lokal namun tak banyak membantu. Kami seperti di lingkaran setan semakin berputar-putar dan menjauh. Malu bertanya sesat di jalan, dan kami bertanya namun semakin tersesat di jalan. Tidak banyak orang lokal yang bisa berbahasa inggris dan ditambah alfabet Vietnam yang meski tak jauh berbeda dengan alfabet biasa, namun karena adanya beberapa guratan di beberapa hurufnya yang mempengaruhi pengucapan, pelafalan dan nada bacanya menjadikan artinya yang juga berbeda. Alhasil, mereka tak mengerti kami yang berusaha berkomunikasi dengan bahasa inggris atau sekedar mengucap beberapa kata dalam bahasa Vietnam. Kami berusaha menunjukkan tulisan seperti yang tampak di peta namun masih tak banyak membantu.    
Kami pun pasrah memilih jalan berdasar insting dan mencoba menyeleksi orang-orang yang kami temui di jalan sambil berharap paling tidak kami menemukan satu saja, orang yang bisa berbahasa inggris. Kami memilah orang berdasar penampilan yang agak rapian-tampak seperi orang kantoran- dan bertemulah kami dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah ruko. Lelaki yang sepertinya berumur 28an ini langsung menjadi bidikan kami dan yah, meski bahasa inggrisnya tak lancar, terbata-bata dan sulit dipahami, ia benar-benar orang yang sangat membantu. Ia bertanya darimana asal kami dan kami jawab Indonesia. Kami memilih orang yang tepat karena ia tak hanya menunjukkan jalan yang benar namun juga mengantar kami hingga menemukan letak hostel kami. Saya dan Muti mengikuti lelaki itu yang berjalan cepat di depan. Sungguh, ia berjalan sangat cepat tanpa tahu kami yang kelelahan di belakang dan harus sedikit berlari mengejarnya dengan beban di bahu yang tak ringan.
Hongkong Kaiteki Hotel tampak seperti sebuah ruko dari depan (Photo: googlemaps - Mar 2014)
Kami akhirnya sampai di sebuah perempatan di depan Lotteria dan dari sana saya sudah mengetahui letak Hongkong Kaiteki Hotel di seberang jalan berkat dari google maps yang sudah saya lihat sebelumnya. Kami pun berterimakasih berniat segera pamit undur diri, namun tiba-tiba ia menuliskan nama, email dan nomor teleponnya pada kertas peta yang kami bawa. Dari bahasa inggris yang ia ucapkan dan yang bisa kami pahami, sepertinya ia menawarkan diri untuk menjadi guide kami selama di Ho Chi Minh City. Ia bertanya berapa lama kami akan berada di Ho Chi Minh City dan kami jelaskan bahwa besok kami akan bertolak ke Kamboja sementara Muti masih akan kembali lagi ke kota ini pada hari sabtu/minggu. Selesai menulis, ia pun mengembalikan kertas peta pada kami dan sepertinya berharap kami mau menjadikannya guide selama di Ho Chi Minh City. Kami mengiyakan saja namun masih tak yakin dengan maksudnya. Kami kembali berterima kasih sebisanya dalam pengucapan bahasa Vietnam ala-ala. Kami berpisah dan langsung menuju hostel untuk check-in. Kami tak tahu harus diapakan kertas itu dan sepakat menyimpannya saja.
Kenang-kenangan (?) tulisan tangan dari orang lokal yang menolong kami
Setelah proses check-in kelar, apa yang lebih menggiurkan dari lambaian kasur yang sudah siap menampung tubuh yang lelah setelah berjam-jam menempuh perjalanan jauh hingga lintas tiga negara?
Saat tiba di penginapan jam menunjukkan pukul 14.30an dan check-in baru bisa dilakukan pukul 15.00. Syukurlah kami diperbolehkan check-in lebih awal. Kami segera menyelesaikan proses check-in dan untunglah masih ada satu bed di female dormitory room untuk Muti yang memang sebelumnya belum memesannya. Harga untuk sebuah bed di female dormitory room di Hongkong Kaiteki Hotel ini adalah USD 8 atau VND 175.000. Paspor kami ditahan sebagai jaminan selama  menginap disini seperti layaknya ketika menginap di sebuah hotel. Hongkong Kaiteki ini memang menyebut dirinya hotel karena ia menawarkan private tv, bed, ac, dsb yang ditempatkan di dalam sebuah kapsul.  Ya, kapsul. Seperti layaknya di dalam sebuah kapsul ruang angkasa. Unik. Itulah alasan saya ingin mencoba penginapan ini. Next time di lain postingan akan saya buat ulasan atau review mengenai penginapan yang pernah saya tinggali selama perjalanan saya.
Penampakan kapsul kelas bisnis di female dormitory room di Hongkong Kaiteki Hotel (1)
Penampakan kapsul kelas bisnis di female dormitory room di Hongkong Kaiteki Hotel (2)
Pegawai penginapan kemudian menunjukkan letak kamar, bagaimana menggunakan loker, dan segala a-b-c-d hingga z-nya tentang apa yang harus kami ketahui saat menginap di hotel ini. Muti mendapatkan bed di kelas ekonomi karena kelas bisnis seperti yang saya pesan telah habis. Kelas bisnis dan ekonomi ada dalam satu ruangan dengan fasilitas dan harga yang sama persis, dan hanya berbeda dari letak pintunya. Setelah mandi bebersih, sholat dsb akhirnya rebahan. Sembari mengisi daya baterai hape dan menyalakan wifi, kini saatnya berselancar di dunia maya. Sambil bermain medsos tipis-tipis, memposting foto konklusi hari ini, bertemu dengan teman-teman baru, dan mengirim email foto pada Ernest serta tak lupa berkabar dengan teman-teman kantor bahwa saya sehat walafiat setelah berjam-jam tak bisa dihubungi di negara antah berantah. Mungkin karena terlalu lelah, saya kemudian tertidur lelap.
Pernah nonton Running man eps. Vietnam (134)? Gara-gara itu, Water Puppet Show masuk dalam daftar 'my things to do' saat berkunjung ke Vietnam. Namun sayangnya, gagal. :( (Photo: lifesmytrip)
Bangun pukul lima sore lebih, rencana menonton pertunjukan Water Puppet Show pun gagal. Setelah sholat, tampak lampu kapsul Muti mati dan saya berpikir mungkin Muti juga sedang tidur pulas karena kelelahan, saya pun memutuskan untuk tak mengganggunya dan akhirnya kembali ke dalam kapsul, menonton tv menunggu Maghrib. Beberapa saat kemudian tanda-tanda kehidupan tampak dari dalam kapsul Muti dan ternyata ia baru saja kembali dari money changer dan berjalan-jalan bersama kenalan temannya. Gagal menonton Water Puppet Show, kami kemudian berencana untuk berjalan-jalan di sekitar Bui Vien.

Selepas Maghrib, kami memutuskan mencari makan malam dan mencari tiket bus menuju Phnomp Penh. Keluar dari hostel, kami belok kanan dan dari jauh mulai tampak gemerlap lampu-lampu warna warni menghiasi jalanan Bui Vien di malam hari. Kami sampai di sebuah perempatan dengan icon terkenal dari kawasan ini, sebuah logo banteng bertuliskan 'Crazy Buffalo' mejeng di persimpangan jalan. Bui Vien memang terkenal sebagai kawasan backpacker yang sangat ramai. Sejauh mata memandang, banyak sekali turis berlalu lalang. Deretan bar, tempat karaoke, tempat makan kaki lima hingga restoran, penginapan sekelas hostel hingga hotel, toko-toko baju hingga agen-agen travel banyak berjejeran di sepanjang jalan di kawasan ini. 
Persimpangan jalan Den Tham. Bui Vien adalah jalanan lurus  di kanan 'crazy buffalo' (Photo: bestpricevn )
Dari arah Bui Vien, di perempatan jalan tsb, kami berbelok kanan dan menyusuri jalanan bernama Den Tham Street. Beberapa kali kami masuk keluar toko agen perjalanan untuk sekedar membandingkan harga hingga akhirnya pilihan jatuh pada sebuah agen travel bernama Vietsea. Harga tiket yang lebih murah beberapa ribu Dong akhirnya membuat kami sepakat membeli tiket bus di tempat ini. Uniknya, mungkin untuk lebih menarik wisatawan sekaligus mempromosikan pariwisata Vietnam, para pegawai dari agen perjalanan ini menggunakan baju khas Vietnam. Mungkin kalo di Indonesia, memakai batik adalah hal yang lumrah demikian pula orang-orang Vietnam memakai pakaian khas mereka. Si embak pegawai kemudian menjelaskan tentang beberapa operator bus beserta perbedaan masing-masing harga serta waktu keberangkatannnya untuk perjalanan Ho Chi Minh-Phnomp Penh. Thanks to riset kecil-kecilan yang saya lakukan sebelumnya, saya sudah punya dua pilihan yaitu Giantibis Bus atau Mekong Express Bus.
Vietsea, salah satu dari banyaknya agen perjalanan yang menjamur di kawasan Den Tham street
Dua perusahaan otobus ini memang kompetitif dan harga yang ditawarkan juga tidak jauh berbeda dengan kualitas yang juga kurang lebih sama. Kami akhirnya memilih Giantibis bus karena meski harganya yang lebih mahal beberapa dolar namun dari review yang -saya baca- paling bagus dan kualitas bus serta service-nya yang -saya baca juga- lebih oke, akhirnya membuat kami rela menukar VND 375.000 untuk satu harga tiket bus perjalanan Ho Chi Minh City-Phnomp Penh. Kami juga bisa memilih nomor tempat duduk di dalam bus namun sayangnya yang tersisa adalah kursi-kursi di deretan belakang. Meski demikian, bagi kami it's not a big deal. No problemo~.. Kami memilih jadwal keberangkatan pukul 08.30 esok pagi. Sebenarnya Giantibis menyediakan pelayanan jemputan gratis ke penginapan namun karena letak hostel kami yang dekat dengan Vietsea dan bus akan kesulitan memutar balik karena jalanan yang sempit dan searah, jadilah si embak meminta kami datang pukul 07.30 ke tempat travel agen ini karena bus akan menjemput kami di tempat itu. 
Hanya di Vietnam, saya merasa menjadi 'agak' kaya karena kurs mata uangnya yang lebih rendah dari rupiah
Kami kemudian mencari makanan untuk makan malam. Saya yang membawa bekal berupa sambal roa dan kering kentang serta abon memutuskan untuk hanya mencari nasi karena menakutkan bagi saya makan di sembarang tempat yang sudah pasti diragukan kehalalannya. Sebelum itu kami mencoba masuk ke convenient store dan memutuskan untuk membeli beberapa bungkus kecil kopi Vietnam untuk oleh-oleh kecil-kecilan. Kami pun berjalan-jalan kembali menyusuri jalanan Bui VIen dan akhirnya menemukan sebuah tempat warung makan di pinggir jalan yang menjual nasi. Kami memesan 2 nasi dan Muti memesan ayam yang dipanggang dengan saus barbeque. Satu porsi nasi hanya VND 10000.
Potret jalanan Bui Vien di malam hari dari warung di pinggir jalan tempat kami membeli makanan
Setelah berhasil menyelesaikan misi mendapatkan tiket bus dan makanan untuk santap malam, kami pun kembali ke penginapan. Kami bersantap malam di kamar dan entah kenapa makanan-makanan yang saya bawa dari Indonesia terasa enak sekali. Mungkin karena efek psikologis jauh dari tanah air dan semua kenangan yang ada disana secara ajaib membuat level kelezatan makanan Indonesia di luar negeri meningkat hingga level tertinggi. :)

Selepas itu kami harus segera tidur karena esok kami harus bangun pagi agar tak tertinggal bus. Jurus tempel koyo diterapkan ke tangan kaki punggung bahu. Meski demikian, rasa lelah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa syukur atas keberhasilan melewati hari kedua ini dengan baik. Meski dirasa hari kedua dibawah ekspektasi, keterbatasan waktu sehingga kurangnya eksplorasi kota namun demikian saya masih cukup puas dengan segala kemudahan yang dikirimkan Tuhan di sepanjang hari. Nice trip ahead!

Catatan tambahan:
Pengeluaran hari kedua
- Bus bandara Ben Tanh VND 10.000
- Kaca Mata VND 80.000
- Air mineral VND 7.000
- Makan Siang VND 60.000
- Air Kelapa VND 25.000
- Penginapan  VND 175.000
- Nasi Putih VND 10.000
- 3 Bungkus Kecil Kopi Vietnam VND 36.000  
- Tiket Bus VND 375.000
 Total Pengeluaran hari kedua: VND 778.000 
Saya biasa mengkonversikan VND ke Rupiah dengan mengalikan setengahnya. Total Pengeluaran hari kedua adalah VND 778.000 atau sekitar Rp 338.000. Hal itu saya lakukan hanya semata untuk memudahkan perhitungan karena sebenarnya kurs yang saya beli pada saat saya menukar uang di money changer lebih tinggi yaitu 1VND= 0.66 Rupiah. Saya sendiri hanya menukar rupiah ke Dong sejumlah VND 800.000 untuk bekal selama di Vietnam yang memang hanya saya akan habiskan sehari.



Berikutnya, -- Road Trip Ho Chi Minh-Phnomp Penh (004) --
Sebelumnya, -- Suprisingly Ho Chi Minh City. Bertemu Travelmate (002)--

You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com