Menikmati Malam di Phnomp Penh Night Market (005)

by - August 07, 2015

Suatu malam di Phnomp Penh ... (foto: dokumen pribadi)
Masih di hari ke tiga, 5 Februari 2015. Hari telah berganti malam. Kali ini kami menuju ke arah deretan toko di seberang kawasan pedestrian Sisowath Quay untuk sekedar menyusuri restoran-restoran yang ada di sepanjang jalan sambil berharap kami menemukan nasi untuk teman lauk kami. Jika dipikir-pikir, seharian ini memang kami belum bertemu nasi. Tipikal orang Indonesia yang belum bisa dikata makan jika belum makan nasi. 
Deretan toko-toko yang berjajar di seberang Sisowath Quay
Sepanjang menyusuri restoran-restoran yang berjajar, kami tidak menemukan sang mentari (baca: nasi) yang dicari. Mayoritas tempat yang kami lewati merupakan bar-bar dan restoran yang menyajikan makanan barat sebagai menu utamanya. Dan satu hal yang saya perhatikan, bahwa berkunjung ke Kamboja nampaknya merupakan surga bagi para penggemar minuman beralkohol. Setiap tempat makan yang kami lewati hampir semuanya menyediakan minuman beralkohol. Baliho dan poster-poster minuman ini terpampang jelas di setiap sudut kota. Minuman beralkohol sepertinya memang  sudah menjadi representasi dan icon yang paling menjual dari Kamboja.
Salah satu merek minuman alkohol yang banyak ditemui di Kamboja  
Gagal mendapatkan nasi saya justru 'kepincut' buku lonely planet yang dijual di pinggir-pinggir jalan di sepanjang deretan depan toko dan restoran di jalan Sisowath Quay ini. Saya menukar USD 4 dengan buku Lonely Planet Korea yang harusnya bisa ditawar lebih murah. Buku yang dijual memang tidak asli alias bajakan dan bonus rasa terkhianati alias zonk saat mengetahui bahwa isi di dalamnya ternyata berupa fotokopi-an :'( Tapi tak apalah, hitung-hitung sebagai amunisi perjalanan saya ke Korea di bulan april.
Buku Lonely Planet Korea yang saya dapatkan seharga USD 4. Bekal solo trip berikutnya
Kami terus berjalan dan akhirnya sampai di Phnomp Penh Night Market. Kami menutup hari pertama di ibukota Kamboja ini dengan mengunjungi pasar malam yang terletak di Preah Mohaksat Treiyani Kossamak, Phnom Penh. Kami melihat-lihat pasar malam yang menurut informasi yang saya baca, hanya buka saat weekend saja yaitu hari Jumat-Minggu. Namun kami beruntung, meski hari itu masih hari Kamis, ternyata pasar malam ini sudah buka. 
Pintu masuk Phnomp Penh Night Market
Suasana di depan pasar malam Phnomp Penh
Begitu memasuki pasar akan ditemui banyak pedagang baju, syal, sandal sepatu, aksesoris, dan kerajinan tangan lainnya. Harga yang ditawarkan juga cukup bervariasi. Misalnya, untuk sebuah syal atau pashmina dihargai mulai 3-5 USD. Uniknya, saat saya melihat-lihat dan hampir tergoda membeli pashmina, ternyata beberapa diantaranya tertulis made in Indonesia. Jadilah saya urung membelinya dan berpikir mengapa jauh-jauh ke Kamboja kalau bisa beli di Indonesia. Lebih baik saya beli di Jakarta. Produk yang sama dengan kualitas yang sama juga pasti banyak dijual di tanah abang, misalnya. Meski demikian saya cukup berbangga menemukan produk lokal di negara orang. :D
Berbagai macam pernak-pernik dagangan yang dijual di Phnomp Penh Night Market 
Selain souvenir dan aksesoris, barang dagangan lain juga banyak diperjual-belikan di sini
Baju anak-anak hingga dewasa juga banyak dijual di pasar malam ini
Lebih lanjut memasuki pasar malam ini, kami menemukan pertunjukan musik yang dilengkapi dengan panggung besar (kalau di Indonesia mungkin sejenis orkesan atau dangdutan) dengan iringan musik khas Kamboja. Ritme musik yang lambat, syahdu mendayu dinyanyikan oleh seorang perempuan di sebuah panggung yang lumayan besar ditengah-tengah pasar. Inilah hiburan yang ada di Phnomp Penh night market. Beberapa pengunjung juga tampak menikmati pertunjukan ini.
Para pengunjung yang tengah menikmati hiburan yang disediakan di pasar malam ini
Tak hanya warga lokal, kami juga menemukan banyak sekali warga asing yang mengunjungi pasar malam ini. Letaknya yang strategis di kawasan Sisowath Quay yang juga merupakan kawasan backpacker di Phnomp Penh membuat pasar malam ini menjadi must-visit place bagi wisatawan yang mengunjungi ibukota negara Kamboja ini. Kami kemudian sampai di bagian belakang dari pasar malam dan menemukan sebuah tempat food court yang sudah cukup ramai oleh warga lokal maupun asing yang sedang menghabiskan waktu dengan makan malam atau sekedar jajan disini. 
Suasana food court di pasar malam Phnomp Penh
Suasana lesehan di food court pasar malam Phnomp Penh
Food court diisi dengan tikar-tikar yang disusun dengan konsep lesehan, dengan penjual berbagai makanan ada mengelilingi tempat tersebut. Menu makanan yang dijual di pasar malam ini diantaranya sosis, seafood, ayam, daging, padthai, makanan khas kamboja -yang saya juga tidak tahu namanya-, dan lain sebagainya. Saya sendiri tertarik mencoba minuman khas yang banyak dijual di pasar malam ini yaitu es tebu yang dipadukan dengan perasan jeruk (entah jeruk biasa, lemon atau nipis saya lupa). Harga pergelasnya hanya 2000 riel atau 1 dollar untuk dua gelas minuman -yang entah disebut apa dalam bahasa lokal-. Muti mencoba hidangan barbekyu yang ternyata babi yang ia sendiri sebenarnya tidak begitu menyukainya. Saya? Karena tidak ada nasi saya pun hanya menikmati es tebu yang rasanya sungguh nikmat dan nagih ini. 
Salah satu penjual makanan di pasar malam Phnomp Penh (1)
Salah satu penjual makanan di pasar malam Phnomp Penh (2)
Muti tertarik untuk mencoba salah satu masakan yang dibakar. Setelah memilih salah satu bahan dan menyerahkannya kepada bapak-bapak pembakarnya, beberapa saat kemudian masakan Muti pun siap. Sayangnya ia tidak terlalu suka dengan makanan itu karena ternyata yang dipilihnya adalah babi dengan saus barbekyu. Muti sendiri mengaku ia tidak terlalu menyukai babi. Kami pun berakhir dengan hanya minum-minum es tebu :)
Pengunjung terlebih dahulu memilih menu makanan yang dijual
Menu makanan yang telah dipilih kemudian akan dibakar oleh bapak ini
Babi bakar saus barbekyu beserta parutan sayur yang dibeli si Muti
Belakangan saya tahu dari foto-foto yang saya ambil bahwa ada makanan berlabel halal yang dijual di pasar ini. Sayangnya karena tak melihatnya, saya pun berakhir dengan perut kosong. Ada banyak makanan laut yang juga dijual namun saya masih terlalu takut untuk mencobanya. Ya, apalagi kalau bukan meragukan kehalalannya, dari minyaknya, misalnya.  
Salah satu stan penjual makanan halal di pasar malam Phnomp Penh ini
Salah satu menu seafood yang menarik untuk dicoba. Ada udang di balik mentimun? :) 
Banyak pemandangan menarik yang saya temui di pasar malam Phnomp Penh ini. Anak-anak yang kurang beruntung, mengais sisa-sisa makanan yang ditinggalkan oleh pengunjung pasar malam ini. Mereka membersihkan gelas-gelas dan piring-piring bekas yang baru ditinggal oleh pengunjung, memungut sisa makanan, dan jika masih ada, mereka akan menghabiskan sisanya. Meski pemandangan demikian sedikit banyak tidak berbeda dengan pemandangan kerasnya kehidupan di jalanan Jakarta namun melihat hal yang sama seperti itu membuat saya banyak mengambil pelajaran. Kita yang sering mengeluh tentang kehidupan dan hal-hal sepele lainnya termasuk segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita, adalah tidak ada apa-apanya dengan mereka yang menjalani kerasnya kehidupan yang sesungguhnya. 
Anak perempuan inilah yang membersihkan sisa makanan bekas pengunjung pasar malam
Dan anak-anak inilah yang menghabiskan sisa-sisa makanan yang dibersihkan anak perempuan diatas
Kami kembali ke hostel dan sebelumnya mampir untuk membeli tiket untuk keberangkatan besok malam menuju Bangkok. Saya memilih untuk menggunakan Mekong Express dan membeli tiket di kantor Mekong Express yang letaknya hanya sekitar seratusan meter saja dari Hostel. Muti juga berniat untuk membeli tiket yang sama untuk kembali ke Saigon namun urung karena ia masih bingung memutuskan kapan ia harus kembali ke Saigon. 
Situasi jalanan menuju hostel
Harga untuk satu tiket adalah USD 25. Jadwal keberangkatan tiket yang saya beli adalah besok malam tanggal 6 Februari 2015 pukul 23.30 dan kursi yang tersisa hanya tinggal satu di bagian belakang. Kendaraan yang digunakan bukan merupakan bus melainkan mobil van yang akan ganti kendaraan saat di perbatasan Kamboja-Thailand. Setir yang berbeda antara Kamboja dan Thailand mengharuskan penumpang harus berganti kendaraan. Fyi, Kamboja-Vietnam menggunakan sistem setir kiri sedangkan Thailand menggunakan sistem setir kanan seperti di Indonesia. 
Tiket bus Mekong Ekspress yang akan membawa saya ke Bangkok besok malam
Selesai membeli tiket bus kami kembali ke hostel dan menutup hari pertama di Phnomp Penh dengan banyak pelajaran dari potret kehidupan yang saya lihat hari ini. Karena pada dasarnya hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya. Ya, terkadang kita mengeluh ini itu tentang tidak adilnya kehidupan dan lain sebagainya hanya karena sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Maka, saat Anda akan mengeluh tentang suatu hal, ingatlah bahwa masih ada seribu hal yang patut disyukuri. Termasuk nafas Anda hari ini. Jadi, sudahkah Anda bersyukur hari ini? :)
Sampai di hostel dan siap jelajah kota besok. Good night Phnomp Penh!

You May Also Like

0 comments