Phnomp Penh Hari Kedua: Central Market, Independence Monument dan Sisowath Quay (006)

by - August 11, 2015

Seharian ber-tuk-tuk keliling Phnomp Penh (Foto dokumen pribadi)
Hari ke empat, 6 februari 2015. Agenda hari ini adalah city tour alias mengelilingi kota Phnomp Penh, dengan misi tambahan: mencicipi masakan Indonesia di warung Bali. Saya harus check-out hari ini karena malam nanti saya akan menuju ke Bangkok. Muti sendiri memutuskan untuk extend menginap di One Stop Hostel karena ia memutuskan menambah satu hari lagi di Phnomp Penh. 

Saya check-out dan menitipkan backpack di lobby hostel sembari menaruh cucian kotor alias laundry pada petugas hostel (tarif laundry 1.25 dolar). Pukul 09.00 tepat, kami keluar dari hostel dan berniat mencari tuk-tuk yang bisa kami sewa selama setengah hari ini untuk mengantarkan kami berkeliling di sekitaran Phnomp Penh. Banyak abang-abang tuk-tuk yang mangkal di depan hostel yang menawarkan tuk-tuk mereka. Kami bernegosiasi dan akhirnya bertemu di angka USD 8 untuk jasa sewa tuk-tuk yang akan mengantar kami ke Wat Phnomp, Central Market, Independence Monument, dengan titik akhir Warung Bali.
Pengalaman pertama naik tuk-tuk di Kamboja
Pemberhentian pertama adalah Wat Phnomp. Kami turun dan si abang akan menunggu di tuk-tuknya untuk mengantar kami ke destinasi berikutnya. Wat Phnomp adalah sebuah kuil atau vihara umat Budha yang menjulang setinggi 27 meter diatas permukaan tanah, didirikan pada tahun 1373 dan terletak di sebuah perbukitan di tengah kota Phnomp Penh. Biaya untuk memasuki kuil ini bagi wisatawan asing adalah USD 1 dan untuk penduduk lokal tidak dikenakan biaya alias gratis.
Bangunan berwarna kuning itu adalah tempat membeli tiket masuk Wat Phnomp
Tangga utama menuju bangunan utama Wat Phnomp yaitu Vihara
Main Pagoda, bangunan utama di Wat Phnomp
Salah satu bangunan kuil yang ada di Wat Phnomp
Suasana di kuil atau vihara utama tampak ramai. Sepertinya Jumat adalah hari suci umat Budha di kota ini. Kami melihat-lihat dan berkeliling di sekitaran kuil. Ada yang datang untuk beribadah, ada yang sekedar berkunjung serta ada pula yang datang untuk mencari rezeki dengan berjualan perlengkapan ibadah seperti bunga atau sejenis persembahan lainnya serta beberapa pengemis yang menunggu di sekitar bangunan utama kuil berharap kebaikan dari orang-orang yang beribadah. Meski cukup banyak turis yang berkunjung ke tempat ini namun kegiatan keagamaan hari itu berjalan lancar dan mereka juga tidak merasa terganggu dengan orang-orang yang datang untuk mengamati kegiatan mereka.
Suasana peribadatan di dalam bangunan utama atau main pagoda
Suasana sembahyang umat di salah satu kuil atau vihara yang ada di Wat Phnomp
Selain doa-doa yang terpanjat, umat juga mempersembahkan bunga dan dupa untuk sembahyangan
Warga yang berjualan bunga untuk sembahyang umat
Kegiatan peribadatan umat tidak hanya berada di kuil utama. Ada beberapa bangunan di samping kanan dan kiri dari main pagoda yang juga dipadati oleh umat untuk bersembahyang. Cukup banyak pengunjung Wat Phnomp saat itu, mulai dari anak-anak kecil, anak-anak sekolah, orang-orang dewasa hingga orang-orang lanjut usia, dari warga lokal hingga mancanegara.  Kami terus berkeliling dan bertemu dengan stupa putih berukuran besar di bagian belakang main pagoda. Konon di dalam stupa tersimpan abu dari raja Pohnea Yat (1405-1467), raja yang membangun vihara atau kuil di Wat Phnop ini serta berjasa memindahkan ibukota dari Angkor ke Phnomp Penh pada thaun 1422. Wat Phnomp menjadi simbol kota Phnomp Penh dan menjadi situs suci umat Budha sebagai tempat memanjatkan doa-doa mereka untuk berharap akan kesuksesan dan keberuntungan di sekolah dan dunia usaha.  
Main stupa di Wat Phnomp
 Warga lokal yang mengunjungi Wat Phnomp
Salah satu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Wat Phnomp. Muti (?) 
Dirasa cukup puas mengelilingi Wat Phnomp, kami kemudian kembali ke titik tempat janji kami dan abang tuk-tuk bertemu. Kami tidak menemukan abang-abang tuk-tuk yang tadi. Beberapa saat kemudian seseorang menghampiri kami, yang belakangan kami tahu ternyata seorang sopir tuk-tuk juga. Ia memberitahukan pada kami bahwa ia menggantikan temannya, abang tuktuk kami sebelumnya karena temannya harus pergi lantaran ada masalah dengan anaknya. Kami tidak langsung percaya namun setelah kami tanya berapa tarif yang kami sepakati sebelumnya ia menyebut angka yang sama. Kami pun akhirnya naik ke tuk-tuk yang baru ini untuk melanjutkan perjalanan menuju Central Market.
Salah satu sudut kota Phnomp Penh dalam perjalanan menuju Central Market (1)
Salah satu sudut kota Phnomp Penh dalam perjalanan menuju Central Market (2)
Lebih butuh extra kewaspadaan tinggi untuk berkeliling di Phnomp Penh daripada saat di Saigon. Dari beberapa artikel dan blog yang saya baca sebelumnya, di kota ini banyak sekali kasus scam yang menimpa turis dengan kasus terbanyak adalah pencopetan dan penjambretan. Pelakunya juga tergolong nekat dan tak segan melakukannya di depan umum. Bahkan banyak kasus seperti penjambretan yang dilakukan di tuk-tuk yang sedang berjalan dengan memanfaatkan kelengahan korban yang meletakkan tas dibelakang. Sepanjang perjalanan kami selalu saling mengingatkan untuk memeluk erat barang bawaan kami. 
Butuh kewaspadaan ekstra hanya untuk mengambil gambar dari dalam tuk-tuk
Kami sampai di Central Market Phnomp Penh dan bersepakat untuk bertemu di titik tertentu dengan si abang sopir tuk-tuk. Situasi lalu lintas saat kami sampai di sekitaran pasar cukup padat merayap cenderung macet. Central Market Phnomp Penh atau yang dikenal warga lokal dengan nama Psah Thom Thmey ini merupakan sebuah pasar besar yang pertama kali dibuka tahun 1937 dan beberapa kali mengalami renovasi serta dibangun kembali hingga kemudian kini telah menjelma menjadi salah satu landmark dari kota Phnomp Penh. Daya tarik Central Market bagi para wisatawan selain sebagai tempat murah berburu cenderamata, adalah juga karena sentuhan arsitektur eropa berupa kubah atau dome khas kolonial Perancis yang menghiasi atap bangunan pasar ini. Pasar tradisional ini beroperasi mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore.
Kami sampai di central market Phnomp Penh dan bersepakat untuk bertemu kembali di tempat ini
Situasi lalu lintas di sekitar kawasan Central Market Phnomp Penh
Pedagang di luar bangunan utama Central Market Phnomp Penh
Interior kubah di dalam Central Market Phnomp Penh (1)
Interior kubah di dalam Central Market Phnomp Penh (2)

Kami memasuki pasar, berkeliling dan sekilas memang tak jauh berbeda dengan kebanyakan pasar tradisional di Indonesia. Ada penjual peralatan dapur, perlengkapan untuk perayaan keagamaan tertentu, souvenir atau cindera mata, tas, sandal sepatu, pakaian, hingga penjual makanan yang bermacam-macam, seperti rujak khas Kamboja, hingga makanan tak terdefiniskan (baca: ulat atau serangga) pun juga banyak dijual. 
Penjual peralatan dapur di Central Market Phnomp Penh
Salah satu penjual makanan di Central Market Phnomp Penh
Karena mendekati imlek, banyak dijumpai penjual pernak-pernik untuk perayaan tahun baru Cina
Penjual ikan dan seafood di Phnomp Penh Central Market
Pedagang buah keliling di Central Market Phnomp Penh
Saya tak tahu apa nama makanan ini namun bisa disebut rujak ala Kamboja
Insects for sale
Kami sempatkan diri untuk mencoba jajanan pasar khas Kamboja -entah apa namanya-, hingga membeli beberapa kaos dan flag patches dari beberapa negara. Hasil tawar menawar tak sadis membuat saya akhirnya mendapatkan dua kaos lengan pendek dan satu kaos lengan panjang bertuliskan Kamboja seharga USD 10. Sedangkan untuk patches saya beli dengan harga USD 3 untuk lima buah patchesSebelumnya kami juga sempat mencoba jajanan pasar khas Kamboja yang sekilas tak jauh berbeda dengan jajanan pasar di Indonesia. Entah apa namanya yang jelas kami mencicipi semacam bubur kacang hijau dan sejenisnya yang disiram dengan kuah santan. Rasanya tak asing di lidah karena memang hampir mirip dengan rasa bubur-bubur sejenis di Indonesia. Harga untuk seporsi makanan ini adalah satu dolar.
Makanan lokal yang tampaknya tak jauh berbeda dengan jajanan pasar yang ada di Indonesia
Bubur-bubur kacang hijau santan dan sejenisnya ala-ala Kamboja
Isi dari dalam bubur diantaranya sejenis ubi-ubian
Makanan sejenis mie atau kwetiau  yang dijual di Central Market Phnomp Penh
Kami keluar pasar, kembali ke titik janji temu dengan abang tuk-tuk dan meneruskan perjalanan menuju Independence Monument. Cuaca terik tak menghalangi niat kami untuk sekedar melihat tempat ini. Kami berhenti di sebuah tanah lapang di seberang monumen. Independence Monument adalah sebuah landmark kota Phnomp Penh, berupa bangunan monumen yang dibangun pada tahun 1958 untuk merayakan kemerdekaan Kamboja dari Perancis. Letaknya di persimpangan jalan Norodom dan Sihanouk Boulevard di tengah kota Phnomp Penh, dengan jarak yang hanya sepuluh menit dari Royal Palace. 
Independence Monument yang terletak di tengah kota Phnomp Penh
Tanah lapang atau taman di seberang Independence Monument
Salah satu bangunan khas Kamboja yang tampak jelas dari kawasan Independence Monument 
Tidak ada hal yang mengesankan dengan Independence monumen ini selain sebuah bangunan monumen setinggi 22 meter dengan stupa berbentuk bunga teratai yang mengambil corak dari candi besar Khmer di Angkor Wat. Kami sendiri tidak berdiri tepat di bawah monumen itu secara langsung melainkan hanya mengabadikan gambar dari sebuah tanah lapang di seberang jalan dari monumen. Kami hanya beristirahat, berfoto tidak penting dan menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit-an di tempat ini. 
Assalamu'alaikum Beijing! *eh Phnomp Penh
Kami juga sempat melihat rombongan bus yang diisi orang-orang China berhenti di tempat yang sama dan mendekat ke arah monumen. Cuaca yang sangat terik tak menghalangi mereka yang antusias melihat-lihat monumen ini. 
Turis China yang sedang berwisata di Independence Monument
Kami kemudian berniat meneruskan perjalanan menuju ke Warung Bali. Sempat curiga dengan seorang pengendara sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di dekat tuk-tuk kami dan mengamati kegiatan kami hingga akhirnya ia berlalu sendiri. Hal yang paling saya ingat kemudian adalah menyaksikan sebuah aksi scam yang tersohor di kota ini. Seorang bapak-bapak yang sepertinya orang Jepang, sedang berjalan menuju sebuah toko dan secara tiba-tiba dirampok oleh dua orang pengendara motor yang sedang melintas. Hal yang lebih mengejutkan, meski banyak orang yang menyaksikan, namun tak ada seorang yang pun yang mempedulikan. Alhasil, bapak-bapak ini pun berteriak-teriak berlari sambil mengejar perampok itu seorang diri hingga perampok itu hilang dari pandangan mata dan ia akhirnya bertemu dengan pos polisi.
Jalanan Preah Sihanouk Boulevard, lokasi kejadian scam yang kami saksikan
Melihat adem dan tenteramnya keadaan setelah kejadian membuat kami bertanya-tanya, mengapa tak ada seorang pun yang tergerak membantu orang Jepang tersebut padahal banyak orang di pinggir jalan dan pengendara motor melintas saat kejadian. Kata sopir tuk-tuk kami, orang-orang Phnomp Penh enggan menolong karena takut si perampok membawa senjata tajam. Sekedar membandingkan dengan Indonesia, tingkat kepekaan sosial masyarakat Kamboja ternyata sangat berbeda dengan bangsa kita. Paling tidak, di Indonesia jika terjadi kejadian serupa, responnya akan sangat 'heboh'. Orang akan saling membantu untuk sekedar berusaha membantu korban. Pada intinya memang traveling tak hanya semata soal senang-senang, atau pun hanya sekedar merasakan budaya baru, lebih dari itu adalah bagaimana kita melihat budaya bangsa lain dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman yang didapat sepanjang perjalanan. 

Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Warung Bali. Sepanjang perjalanan kami menjadi lebih waspada, membekap erat barang bawaan kami. Si sopir tuk-tuk kemudian menghentikan tuk-tuknya tak jauh dari Independence Monument, di sebuah tempat lapang di belakang monumen berdiri sebuah patung Norodom Sihanouk. Norodom Sihanouk adalah pemimpin Kamboja pada tahun 1941-1955 dan menjabat kembali pada tahun 1993-2004. Patung perak setinggi 4.5 meter yang dibuka pada Oktober 2013 itu didirikan sebagai peringatan kematian Norodom Sihanouk yang wafat pada 15 Oktober 2012 sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada bapak bangsa rakyat Kamboja tersebut.
Norodom Sihanouk Statue yang terletak di Sihanouk Boulevard  tak jauh dari Independence Monument
Patung Sihanouk Norodam bersama dengan Muti (?)
Cuaca yang sangat panas menyengat dan tak ada yang spesial di tempat ini akhirnya membuat kami hanya menghabiskan waktu tak lebih dari 10 menit.  Kami pun beranjak dari Sihanouk Boulevard dan menuju ke Warung Bali. Sebelumnya kami diberhentikan di sebuah restoran yang bukan Warung Bali, di tempat yang sepertinya sudah menjadi tempat kongkalikong dengan pemilik restoran. Kami memerintahkan untuk langsung menuju Warung Bali. Dengan berat hati sepertinya, akhirnya supir tuk-tuk mengikuti permintaan kami.
Pemandangan di depan Norodam Sihanouk Statue yang dikenal dengan nama Sihanouk Boulevard
Kami sampai di Warung Bali yang beralamat di Street 178 no. 25Eo, Phreah Ang Makhak Vann, Phnomp Penh. Letaknya cukup dekat dengan objek wisata Wat Ounalam dan Royal Palace serta berada tepat di seberang National Museum. Warung Bali adalah restoran Indonesia yang didirikan oleh dua orang Indonesia Kang Kasmin dan Kang Firdaus. Keduanya dulunya bekerja sebagai juru masa di kedutaan besar di Kamboja. Seiring waktu mereka kemudian memutuskan untuk membuka usaha rumah makan kecil-kecilan. Restoran ini kemudian cukup sukses dan terkenal dari mulut ke mulut seiring banyaknya wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke Phnop Penh. 
Warung Bali tampak dari depan (Photo source: googlemaps 2013)
Suasana khas Indonesia di dalam Warung Bali Phnomp Penh (1)
Suasana khas Indonesia di dalam Warung Bali Phnomp Penh (2)
Kang Kasmin, salah satu pemilik warung Bali
Menu masakan yang disajikan di Warung Bali diantaranya adalah sup, rendang, ayam bakar, tempe orek, nasi goreng, dll. Cukup untuk mengobati rasa kangen dengan tanah air. Kami menghabiskan USD 9 untuk makan siang kali ini. Menu yang kami pesan antara lain nasi goreng, sup ayam dan tempe orek serta es kelapadan juga jus tomat.
Menu makan siang kami, obat lapar sekaligus obat kangen dengan negeri sendiri
Selepas makan siang, kami kemudian mengobrol sebentar dengan pemilik Warung Bali bersama dengan tiga orang Indonesia yang juga sedang singgah di Warung Bali. Tiga orang tersebut salah satunya merupakan seorang penulis bernama mas Phay. Ia tengah melakukan semacam peliputan dan ulasan tentang Warung Bali yang akan ditayangkan di stasiun televisi lokal dan kanal youtube miliknya. Dua orang yang lain adalah orang yang ditemui di jalan dan membantu mas Pay. 
Mas Phay dkk, teman-teman yang kami temui di Phnomp Penh
Kami memutuskan untuk bersama-sama jalan barang. Awalnya saya dan Muti berencana ke National Museum yang terletak di seberang jalan dari Warung Bali. Rencana kami urung karena kami putuskan untuk jalan bareng-bareng berlima bersama dengan tiga orang tersebut. Kami juga men-skip Royal Palace melainkan hanya di depannya saja sambil bermain dengan burung-burung merpati.
Suatu siang di depan Royal Palace Phnomp Penh
Burung-burung merpati yang meramaikan suasana siang di depan Royal Palace
Eropa rasa Kamboja (?)
Kami juga bertemu dengan solo traveler asal London bernama Elliot dan merupakan teman si Muti yang ia temui tadi malam saat ia mencari tiket bus menuju Saigon. Elliot sempat bergabung jalan-jalan di riverside sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berpisah menuju ke Royal Palace Phnomp Penh karena ia ingin melihat-lihat dalam istana. Kami kemudian berjalan di pinggir sungai, menyusuri 'negara-negara' di dunia. Di Sisowath Quay riverside ini berjajar deretan bendera-bendera negara dunia yang diurutkan secara abjad. Spot yang cukup bagus untuk berfoto dan menjadi favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Phnomp Penh. Meski hanya berjalan-jalan di bawah bendera negara-negara tersebut, kami cukup puas dan berharap semoga menjadi doa yang terkabul hingga suatu saat nanti diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di negara-negara tersebut.
Saya, Muti, dan teman baru kami, Elliot
Sisowath Quay, spot favorit selama di Phnomp Penh
Sisowath Quay, sensasi 'keliling dunia' meski hanya berjalan di bawah benderanya 
Dari riverside, kami menyeberang menuju Wat Ounalam. Sama dengan Wat Phnomp, Wat Ounalam juga merupakan tempat suci umat Budha dan merupakan salah satu kuil penting lainnya di Phnomp Penh. Tak banyak yang kami lakukan disini. Kami hanya berjalan-jalan sebentar di bagian depan dari kuil sebelum kemudian menemukan pemandangan unik anak-anak kecil penjual aksesoris yang tengah bermain dan bernegosiasi dengan bule.
Dari Sisowath Quay, hanya tinggal menyeberang maka akan tampak Wat Ounalam
Suasana di depan Wat Ounalam
Di dalam kawasan Wat Ounalam (1)
Di dalam kawasan Wat Ounalam (2)
Bangunan utama di Wat Ounalam
Mereka mencoba menawarkan barang dagangannya pada pengunjung Wat Ounalam. Mereka bernegosiasi pada pengunjung untuk melakukan permainan dan jika mereka menang pengunjung harus membeli barang dagangan mereka. Mereka mendekati saya, menawarkan sebuah syal seharga USD 4 namun saya tolak. Mereka tetap merayu memohon dan akhirnya menawarkan seharga USD 2 jika mereka menang permainan batu gunting kertas. Jika saya menang, mereka akan menjual syal itu seharga 1 dollar. Pada intinya, menang kalah saya tetap harus bayar dan bisa diduga, saya kalah dan membayar seharga 2 dollar. 
Anak-anak penjual aksesoris yang mencoba bernegosiasi dengan wisatawan
Bule ini harus menang agar  tak harus membeli barang-barang jualan mereka
Wat Ounalam sebagai tempat perpisahan kami dengan Mas Phay dkk
Kami akhirnya berpisah dengan Mas Phay dan dua orang temannya karena kami berniat langsung pulang menuju hostel. Kami menyusuri Sisowath Quay dan memutuskan untuk duduk-duduk dulu di pinggir sungai dan kemudian menemukan sebuah pohon dengan kelopak bunga putih keunguan yang sedang bersemi. Cantik, kami menemukan suasana spring ala-ala Kamboja, hitung-hitung persiapan sebelum mencicipi musim semi sesungguhnya di Korea. Hari ini kami tutup dengan menghabiskan sore kami dengan beristirahat dan bersantai di tempat ini sebelum akhirnya kembali ke hostel untuk kemudian bersiap menuju ke Bangkok, Thailand.
'Sakura' di tanah Kamboja
Sore penghabisan di Sisowath Quay
Sensasi semi rasa Phnomp Penh yang menutup hari terakhir di kota ini

You May Also Like

0 comments