Road Trip Ho Chi Minh City-Phnomp Penh. Senja di ibukota Kamboja (004)

by - August 04, 2015

Today: Heading to the 4th Country, Cambodia! (Foto: dokumen pribadi)
Hari ketiga, kamis 5 Februari 2015
Masih dalam cerita perjalanan solo traveling lima negara dalam tujuh hari. Hari ini kami akan bertolak ke Phnomp Penh, ibukota Kamboja. Jarak antara Ho Chi Minh-Phnomp Penh lebih kurang 285km dan ditempuh dalam waktu 7-8 jam-an (termasuk waktu untuk istirahat dan proses imigrasi di kedua perbatasan Vietnam-Kamboja). 

Saigon-Phnomp Penh bisa ditempuh dengan jalur darat atau road trip
Sebenarnya si Muti masih memiliki waktu hingga hari minggu di Saigon. Rencana awalnya ia akan mengeksplor kota Saigon dan sekitarnya, diantaranya juga mengunjungi Chuchi Tunnel yang terletak sekitar 55km dari kota Saigon. Begitu saya bercerita akan ke Phnomp Penh dan hanya sehari, ia pun kemudian tertarik untuk juga mengunjungi Phnomp Penh. Alhasil kami pun akhirnya berburu tiket di malam sebelumnya dan hari ini kami siap menuju ke ibukota negara Kamboja. Penerbangan Muti kembali ke Jakarta akan berangkat dari kota Saigon, dan penerbangan saya akan berangkat dari Bangkok sehingga selepas Phnomp Penh, kami akan berpisah dan saya akan melanjutkan perjalanan ke Bangkok sedangkan Muti akan kembali ke Saigon. 
Pagi yang cerah di salah satu sudut kota Saigon.
Pagi-pagi kami sudah rapi dan bersiap, menyelesaikan proses check-out dan pukul 07.20 kami segera menuju ke tempat agen travel 'Vietsea' tempat kami membeli tiket bus semalam sebelumnya. Sesampainya di tempat, kami dipersilahkan menunggu. Kerumunan orang menghiasi deretan depan toko yang memang didominasi oleh agen travel dan sejenisnya. Sama seperti saya, mereka menunggu bus yang akan membawa ke tempat tujuan mereka. Satu per satu bus dari berbagai perusahaan otobus datang dan pergi mengangkut wisatawan dengan berbagai tujuan, mulai dari daerah-daerah di sekitar Saigon seperti Chuchi Tunnels, kota-kota lain di Vietnam seperti Danang, Dalat, Mui Ne, dll, hingga antar kota antar negara seperti Phnomp Penh, Siem Reap hingga Bangkok.
Bus-bus yang siap membawa wisatawan ke berbagai kota di Vietnam seperti Chu Chi Tunnel, Mui Ne, dsb
Kami menunggu cukup lama hingga situasi yang semula ramai berubah menjadi sepi dan tersisa hanya kami berdua. Kami menghabiskan waktu dengan mengamati kegiatan masyarakat lokal yang mereka lakukan di pagi hari hingga mencoba 'gorengan' ala Vietnam. Saya tidak terlalu tertarik namun Muti ingin mencobanya. VND 10.000 pun ditukar dengan gorengan pengganjal perut pengganti sarapan. Kami membeli dua jenis gorengan, satu berupa sejenis singkong yang dihaluskan kemudian digoreng yang rasanya agak pedas dan satu jenis lainnya lebih mirip pisang goreng.
Potret kehidupan pagi di Saigon
Penjual gorengan khas Saigon
Suasana pagi di jalanan De Tham juga diramaikan oleh para penjual berbagai macam barang dagangan
Bus Giantibis yang akan membawa kami ke Phnomp Penh pun akhirnya datang setelah penantian selama lebih kurang satu jam-an. Kami berangkat pukul 08.30. Perjalanan Saigon-Phnomp Penh akan ditempuh sekitar 7-8 jam-an. Saya dan Muti adalah dua penumpang terakhir yang diangkut sebelum bus langsung bertolak menuju Kamboja. Bus didominasi oleh orang-orang eropa australia dan hanya kami yang merupakan orang asia. 
Penampakan luar bus Giantibis (Photo copyright: movetocambodia)
Tiket bus giantibis yang diberikan oleh awak bus
Selama perjalanan kami mendapatkan snack berupa kue seperti risoles beserta 600ml air mineral. Saya tidak memakan kuenya karena selain tak menarik, adalah juga karena meragukan kehalalannya. Bus giantibis ini juga dilengkapi dengan free wifi yang kencang dan stabil sepanjang perjalanan. Awak bus terdiri dari tiga orang lelaki, satu bapak sopir, satu guide dan satu awak bus yang bertugas sebagai asisten guide. Guide akan menjelaskan informasi seputar perjalanan yang akan ditempuh berikut juga proses imigrasi di kedua perbatasan Vietnam-Kamboja. Kami diberikan kartu kedatangan untuk diisi sebelum memasuki Kamboja dan guide juga membantu para wisatawan asing untuk proses VOA (visa on arrival) mereka.
Interior di dalam bus Giantibis (Photo copyright: movetocambodia)
Fasilitas di dalam bus Giantibis, seat belt dan personal electrical outlets (Photo copyright: movetocambodia)
Bus Giantibis ini tidak dilengkapi dengan toilet sehingga saat kami keluar dari Kota Saigon menuju daerah perbatasan, bus sempat berhenti di sebuah rest area di pinggiran kota dan guide mempersilahkan para penumpang untuk turun sekiranya kami membutuhkan toilet dan memberikan waktu sekitar 20 menit untuk istirahat sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju Moc Bai. Pihak bus giantibis mengklaim bahwa bus akan lebih bersih dan terhindar dari bau yang tidak sedap dengan tidak adanya toilet di dalam armada bus mereka.
Sesaat setelah bus berangkat, suasana jalanan Saigon setelah melewati De Tham street.
Terminal bus di Saigon yang kami lewati dalam perjalanan menuju Phnomp Penh
Melewati pinggiran kota, goodbye Saigon!
Setelah perjalanan lebih kurang dua setengah jam-an, kami sampai di perbatasan Vietnam-Kamboja yaitu di Moc Bai. Guide yang sebelumnya sudah mengumpulkan paspor kami, kemudian menyerahkannya kepada petugas imigrasi Vietnam. Seluruh penumpang diharuskan turun dari bus dan memasuki sebuah gedung keimigrasian Vietnam. Kami bersama beberapa warga Vietnam dan penumpang bus lain juga mengantri proses imigrasi menunggu paspor kami distempel. Satu persatu nama kami dipanggil oleh petugas dan guide akan membantu menyerahkan paspor pada pemiliknya yang merupakan penumpang bus yang ia bawa. Tak ada pengeras suara dan hanya dari suara pita manusia yang kadang pengucapannya juga terdengar aneh dan berbeda sehingga kami harus benar-benar mendengarkan dengan seksama, memperhatikan setiap nama yang dipanggilnya. Biasanya hal ini cukup memakan waktu yang lama bahkan bisa berjam-jam namun pada saat itu untungnya proses imigrasi sedang tidak terlalu ramai sehingga kami hanya memakan waktu sekitar setengah jam-an.
Gedung Imigrasi Vietnam di Moc Bai Crossing Border (Photo copyright: Boamai)
Till we meet again Vietnam! See you next time :)
Setelah semua paspor kami dikembalikan, seluruh penumpang kemudian memasuki bus kembali untuk menuju ke gedung imigrasi Kamboja yaitu di Bavet. Jarak antara Moc Bai dan Bavet tidaklah jauh. Bisa dikata hanya berjarak ratusan meter saja. Kami kemudian menjalani proses yang sama, semua penumpang turun dan kali ini kami langsung membawa sendiri paspor kami kepada petugas. Proses imigrasi di Bavet ini berjalan relatif cepat. Setelah paspor distempel, kami diharuskan mengisi sebuah kartu deklarasi kesehatan yang harus kami simpan jika nantinya berobat selama berada di Kamboja.
Gedung Imigrasi Kamboja - Bavet Crossing Border (Photo copyright: Travelblog)
Jam menunjukkan hampir pukul 12.00 siang dan setelah menyelesaikan proses imigrasi, kami kembali naik ke dalam bus. Then, welcome to the fourth country, Cambodia! Alih-alih melanjutkan perjalanan, nyatanya hanya beberapa menit dari kantor imigrasi di Bavet, kami kembali turun untuk istirahat makan siang selama lebih kurang 20 menit di sebuah rest area. Terdapat sebuah cafeteria dan free duty shop untuk beberapa produk seperti parfum, jam tangan, tas, kerajinan tangan, dsb. Saya dan Muti memutuskan untuk mengisi perut. Lagi-lagi karena meragukan aspek kehalal-annya, saya hanya memesan satu porsi kentang goreng seharga USD 2. Sama seperti kami yang kelaparan, semua orang yang ada di dalam bus kami juga terlihat sangat menikmati makan siang mereka di cafetaria ini. Sekitar jam setengah satu siang, kami kembali ke dalam bus dan kemudian melanjutkan perjalanan.
menu makanan di rest area bavet
Menu makan siang pertama di tanah Kamboja
Hari semakin siang, tampak dari balik kaca jendela cuaca panas Kamboja yang menyengat dan debu yang bertebaran. Bus semakin melaju kencang melewati hamparan tanah yang tandus di kanan-kiri jalan. Jalanan yang sepi tanpa hambatan membuat sopir leluasa menambah kecepatan hingga entah darimana sebuah mobil datang memotong jalan. Bus kami tak sempat mengerem hingga sedikit keluar badan jalan dan hampir mengalami kecelakaan. Guncangan yang cukup hebat membuat semua penumpang yang tertidur kemudian terjaga, bertanya-tanya apa yang terjadi baru saja. Untunglah semua bisa dikendalikan dan tak ada yang terluka. Guide kemudian mencoba menenangkan dan menjelaskan bahwa memang sering terjadi hal-hal yang demikian, karena jalanan yang lengang terkadang membuat pengendara lain ugal-ugalan.
Mengintip jalanan yang panas dan berdebu dari balik jendela bus
Jalanan antar provinsi di Kamboja. Pemandangan yang tak asing, seperti jalan utama di jalur pantura
Sungai Mekong yang membelah tanah Kamboja
Kami kemudian sampai di sebuah tempat penyeberangan bernama Neak Loeung Ferry Terminal. Neak Loeung adalah tempat dimana setiap kendaraan dari sisi timur Kamboja yang akan menuju barat ke Phnomp Penh melalui Highway no.1, harus menyeberangi sungai Mekong dengan menggunakan kapal Feri. Jika sedang ramai, antrean untuk menaiki kapal bisa berjam-jam namun jika sepi seperti saat ini, kurang dari 15 menit bus sudah bisa menaiki kapal. Selama menyeberang, semua penumpang bus diharuskan turun dari bus. Durasi penyeberangan tergolong singkat yakni sekitar 10-15 menitan. 
Salah satu kapal feri yang melayani penyeberangan sungai Mekong di Neak Loeung
Suasana di atas kapal feri saat menyeberang sungai Mekong (1)
Suasana di atas kapal feri saat menyeberang sungai Mekong (2)

Suasana di atas kapal feri saat menyeberang sungai Mekong (3)
Selama menaiki kapal feri ini, banyak ditemui pedagang asongan yang menjajakan dagangannya dari turis yang menaiki kapal. Potret kehidupan negara Kamboja pun terlihat. Tak hanya orang dewasa, tampak juga anak-anak yang menjual minuman dan menawarkan jasa sewa pelampung. Guratan tipis debu yang lusuh menggeluti wajah lelah anak-anak itu. Cuaca Kamboja yang panas telah menghitamkan kulit mereka, tanda nyata betapa kerasnya kehidupan di negaranya. Saya mencoba mengobrol dengan salah satunya namun sayangnya ia tak bisa berbahasa inggris dan hanya tersenyum sambil tertunduk malu melihat saya memotretnya.
Potret kehidupan diatas kapal feri di Neak Leoung (1)
Potret kehidupan diatas kapal feri di Neak Leoung (2)
Biasanya banyak juga anak-anak yang mengemis meminta belas kasih turis untuk mendonasikan uang kecil pada mereka. Saat itu saya tidak menemukan pemandangan 'khas' seperti yang banyak saya baca sebelumnya. Begitu sampai di seberang, tanahnya tandus panas dan berdebu. Kami segera memasuki bus dan melanjutkan perjalanan yang tak lama lagi akan sampai di Phnomp Penh.
Selepas turun kapal, kami harus berjalan menyusul bus yang menunggu di depan
Jalanan berdebu dan belum beraspal, setiap harinya dilalui bermacam kendaraan yang akan menyeberang
Aktifitas warga yang berjualan di kawasan terminal penyeberangan 
Beberapa lama kemudian, pemandangan tanda-tanda memasuki ibukota Kamboja telah tampak. Beberapa bangunan mulai terkesan lebih modern dari sebelum-sebelumnya. Tatanan kota yang cukup rapi dan bersih serta taburan beberapa bangunan khas Kamboja mulai tampak di sepanjang jalan. Sungai Tonle Sap yang membelah ibukota juga mulai terlihat dan tepat pukul 16.00 kami akhirnya sampai di pangkalan bus Giantibis yang terletak di dekat Phnomp Penh Night Market.
Pertanda kami sudah memasuki ibukota Kamboja
Pangkalan bus Giantibis di Phnomp Penh (Photo Source: googlemaps - dec 2013)
Kesibukan yang terjadi saat bus sampai di Phnomp Penh (Photo Source: googlemaps - dec 2013)
Setelah mengambil tas, kami segera berpamitan dengan awak bus. Kami menuju penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya yang memang letaknya sangat dekat dengan pangkalan bus dan hanya ditempuh lebih kurang 2-3 menit dengan berjalan kaki. Kami sampai di One Stop Hostel, nama hostel kami, lalu melakukan check-in dan Muti juga mendapatkan bed di kamar yang sama. Satu bed di female dormitory room di One Stop Hostel ini bertarif US 8. FYI, di Kamboja mata uang yang digunakan ada dua yaitu USD dan mata uang lokal yaitu Riel. Kurs untuk 1 USD sama dengan 4000 Riel. Kami langsung menuju ke kamar dan mendapati kenyamanan suasana kamar yang menyenangkan dengan jendela kamar yang menampakkan pemandangan jalanan Phnomp Penh dan pinggir sungai Tonle Sap. 
Penampakan kamar kami di female dormitory room
Pemandangan jalan Sisowath Quay yang tampak dari jendela kamar
Pemandangan sungai Tonle Sap dari kamar kami
Satu jam beristirahat sekedar untuk meregangkan otot-otot kaki, sholat dan rebahan sebentar, kami pun kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di Tonle Sep Riverside atau juga dikenal dengan Sisowath Quay. One stop hostel ini memang letaknya strategis, dekat dengan pasar malam Phnomp Penh, beberapa pangkalan bus, convenient store, dan restoran yang berjajar di seberang jalan dari riverside
Salah satu sudut jalanan Sisowath Quay, Phnomp Penh
Kawasan pedestrian di pinggir sungai Tonle Sap yang banyak dimanfaatkan warga di kala senja
Restoran, bar maupun hostel banyak berjajar di seberang kawasan pedestrian ini
Kami kemudian duduk-duduk di pinggir sungai dan menghabiskan senja dengan mengobrol ngalor-ngidul, menyusun rencana untuk menghabiskan sehari di Phnomp Penh besok. Kami juga berencana ke Warung Bali, restoran indonesia yang ada di Phnomp Penh tapi urung karena kami pikir tempatnya yang cukup jauh jika kami berjalan kaki. Banyak sekali kami temui baik itu wisatawan asing maupun warga lokal yang menghabiskan sore mereka dengan berolahraga, bercengkerama ataupun hanya sekedar duduk-duduk mengamati sungai menunggu matahari terbenam. Di sepanjang pinggir sungai atau yang biasa disebut kawasan Sisowath Quay ini sangat tertata rapi dan membuatnya menjadi tempat favorit saya selama di kota ini. 
Aktifitas warga Phnomp Penh yang menghabiskan sore mereka dengan bersantai di riverside
Tak hanya warga lokal, wisatawan asing pun juga banyak yang bersantai di pinggir sungai
Kawasan pedestrian di sepanjang Sisowath Quay atau Tonle Sap riverside
Perahu tradisional yang banyak berlalu-lalang di sepanjang aliran sungai Tonle Sap (1)
Perahu tradisional yang banyak berlalu-lalang di sepanjang aliran sungai Tonle Sap (2)
Saat asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil kami dengan Bahasa Indonesia. Kami membalas sapa mereka, berkenalan dan kemudian bertukar cerita perjalanan bagaimana hingga kami sampai di Kamboja. Mereka adalah sepasang suami istri yang juga dari Indonesia tepatnya dari Jepara Jawa Tengah yang sedang berlibur di Kamboja. Sebelumnya mereka mengunjungi Siem Reap dan hanya transit di Phnomp Penh untuk menunggu bus yang akan menuju Saigon jam 12 malam. Sungguh menyenangkan bertemu dengan orang-orang baru apalagi bertemu dengan orang-orang sebangsa yang ditemui di negeri orang. 
Bertemu dengan keluarga baru, sepasang suami istri dari Jepara
 Setelah bercengkerama dan bertukar cerita, kami pun akhirnya berpisah karena kami berencana melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran sungai yang memang panjang ini. Menghabiskan senja dengan berjalan-jalan di kawasan trotoar pedestrian di sepanjang pinggir sungai Tonle Sap River ini tak terasa membuat waktu berjalan sangat cepat. Hari mulai gelap, matahari kembali ke peraduannya. Dari seberang sungai terdengar suara adzan. Kami kemudian memutuskan untuk berbalik arah kembali ke hostel.
Matahari mulai kembali ke peraduan, warga lokal berangsur-angsur pulang
Pemandangan sungai Tonle Sap saat matahari sudah tenggelam
Suasana cantik tak hilang dari pinggir sungai meski hari telah berganti malam

Berikutnya, -- Menikmati Malam di Phnomp Penh Night Market (005) -- 
Sebelumnya,  -- Ho Chi Minh City bagian kedua (003) --

You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com