Cerita Perjalanan Phnomp Penh-Bangkok. Solo Traveling Gives You More Chances to Make New Friends! (007)

by - September 27, 2015

One of the best reasons to travel alone is to meet new people
Jum'at malam, masih di Phnomp Penh di hari ketiga perjalanan seorang diri ke lima negara dalam tujuh hari. Hanya beberapa jam lagi sebelum saya dan Muti harus berpisah dan melanjutkan solo trip kami masing-masing. Malam terakhir kami habiskan dengan mengunjungi kembali Phnomp Penh Night Market, sekedar untuk mengisi perut dan memenuhi hasrat ingin minum es tebu jeruk limau sebelum meninggalkan negara ini.
Menjelang akhir pekan, Phnomp Penh night market ini menjadi lebih ramai
Hal baik yang terjadi di malam kedua ini adalah menemukan masakan halal di Phnomp Penh Night Market. Sang penjual tampaknya adalah seorang Melayu dan saya putuskan untuk mencoba salah satu menu yaitu Padthai yang penampilannya tampak sejenis dengan kwetiau namun rasanya lebih manis. Tak terlalu berkesan namun cukuplah untuk mengganjal perut beberapa jam ke depan. Kami juga sempat bertemu dengan beberapa orang Indonesia dan bergabung untuk makan bersama, mengobrol hingga bertukar cerita mengenai pengalaman traveling kami.
Padthai halal yang saya temukan di Phnomp Penh Night Market
Setelah sekitar satu jam-an, kami kemudian berpisah dan saya bersama Muti kembali ke hostel. Masih pukul sembilan malam, sedangkan jadwal keberangkatan saya ke Bangkok adalah jam setengah 12 malam. Saya hanya duduk-duduk di lobi hostel dan mengobrol untuk sekedar menghabiskan waktu. Cukup lama hingga kemudian datang seorang lelaki Jepang menyapa kami, yang sedari tadi duduk-duduk dan berdiskusi dengan temannya di bangku yang lain. Orang Jepang itu bernama Haru, yang ternyata merupakan adik dari pemilik penginapan ini. Kakak Haru memiliki One Stop Hostel dan Haru adalah orang yang bertanggung jawab mengelolanya. Ia pun datang untuk sekedar menyapa dan mendapatkan pendapat serta feedback dari orang-orang yang menginap di hostelnya. 
Bersama Haru, bosnya One Stop Hostel
Kami akhirnya mengobrol banyak hal dengan Haru, hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 23.00. Obrolan kami harus terhenti karena saya harus segera menuju kantor Mekong Express untuk menuju Bangkok. Pukul 23.20 saya berpamitan dengan Haru dan Muti. Berat sekali rasanya harus pisah dengan travel partner yang tiga hari terakhir ini sudah menjadi kawan suka duka hingga berbagi tawa, pengalaman, dan cerita yang sama. Kemampuan bertahan seorang diri yang sesungguhnya telah dimulai seiring dengan perpisahan saya dengan Muti. Kali ini tanpa seorang travelmate, solo trip saya benar-benar akan dimulai lagi.

Jarak antara  One Stop Hostel dan kantor Mekong Express memang tidak jauh yakni sekitar lebih kurang 90 meter. Saat sampai di tempat ternyata mobil masih menunggu beberapa penumpang yang belum datang. Sekitar jam 23.45, mobil akhirnya berangkat. Di dalam mobil van tersebut, hanya saya dan seorang lelaki bule tersebut yang bukan warga negara Kamboja. Sisanya, dari sekitar 12 kursi, sepuluh diantaranya merupakan orang-orang Kamboja.

Perjalanan darat antara ibukota Kamboja dan Thailand ini ditempuh sejauh lebih kurang 680 km. Rute perjalanan ini adalah Phnomp Penh - Poipet/Aranyaprathet - Bangkok. Poipet adalah perbatasan di sisi Kamboja dan Aranyaprathet adalah perbatasan di sisi Thailand. Kami akan berhenti di Poipet/Aranyaprathet untuk immigration clearence dan berganti mobil karena letak setiran kedua negara yang berbeda. Kamboja menganut sistem setir kiri dan Thailand menganut sistem setir kanan. Phnomp Penh-Poipet akan menempuh jarak sekitar 412-an km dengan durasi perjalanan sekitar 6-7 jam-an. Sedangkan Arayaprathet-Bangkok berjarak sekitar 250-an kilometer dengan waktu tempuh 3-4 jam-an.

Jalur perjalanan darat menuju Bangkok dari Kamboja (Photo: getsetandgo)
Perjalanan Phnomp Penh-Poipet awalnya saya kira akan melewati jalanan mulus seperti perjalanan Vietnam-Kamboja. Nyatanya justru jauh dari yang terbayangkan. Selepas keluar dari Phnomp Penh, jalanan mulai tak mulus, tak beraspal dan sangat minim penerangan. Terlalu gelap, saya tak yakin apakah jalanan sedang dalam perbaikan atau memang begitulah adanya (rusak dan tak diperbaiki). Yang pasti, jalanan yang tak rata cukup mengguncang seisi mobil hingga berulang kali mampu membangunkan diri dari tidur. Nyanyian 'nina bobo' juga menjadi bonus perjalanan kali ini yang dipersembahkan oleh sayup-sayup lagu Kamboja yang dipasang oleh sang sopir. Irama dan nada bak lagu-lagu Indonesia di tahun 80-90an. 

Sekitar pukul 02.00, mobil berhenti di sebuah ruang makan. Mungkin karena pihak travel sudah bekerja sama dengan rumah makan ini, maka kendaraan diharuskan berhenti meski tidak ada keharusan bagi penumpang untuk membeli. Kami tak sendiri, beberapa bus dari agen travel lain juga tampak berhenti di tempat ini. Saya tidak tahu persis sedang di mana saat itu karena tak ada wifi yang bisa diakses untuk melacak lokasi. Yang saya ingat detik itu adalah sensasi berada di suatu tempat antah berantah, di tengah malam, di satu-satunya tempat dengan sumber penerangan yang tertolong oleh lampu-lampu kuning berdaya sekitar 5 watt-an dan sejauh mata memandang, di sekelilingnya hanya tampak kegelapan.
Beberapa rute jalur Phnomp Penh-Poipet. Jalur yang kami lalui adalah via Battambang
Setelah lebih kurang 40 menit-an, mobil kemudian melanjutkan perjalanan. Gelap gulita masih mendominasi perjalanan. Saya sempat diajak ngobrol dengan penumpang lain, seorang bapak-bapak warga Kamboja yang heran dengan kenekatan saya melakukan perjalanan ini seorang diri. Cukup tertolong dengan adanya orang yang bisa diajak mengobrol meski hanya sebentar sebelum ia kemudian turun di Battambang. Saya kembali tidur dan kemudian terbangun karena mobil telah sampai di Poipet, perbatasan Kamboja Thailand. Hari telah berganti Sabtu 7 Februari 2015, jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, mobil berhenti di pangkalan Mekong Express di Poipet. Staf kemudian meminta paspor kami dan membantu mengisi arrival card sebelum memasuki Thailand.

Letak pangkalan bus Mekong dengan keimigrasian Kamboja hanya sekitar 150-an meter. Meski masih terhitung pagi, antrian sudah sangat mengular, warga Kamboja hilir mudik hendak menyeberang ke perbatasan untuk memulai aktivitas pagi. Demikian pula para bule yang membawa tas backpack menjulang tinggi juga sudah tampak mengantre. Salah seorang staf Mekong Express pun menyuruh kami membayar 200 Baht agar paspor kami bisa diproses dengan cepat tanpa harus menunggu antrean yang mengular. Entah bisa dikatakan scam atau tidak namun praktek pungutan liar oleh oknum imigrasi di Poipet memang sudah menjadi rahasia umum dan tanpa sungkan dilakukan secara terang-terangan.

Poipet dengan aktifitasnya yang selalu sibuk (Photo by: Vuth Thy)
Sembari menunggu paspor kami distempel, saya mengajak ngobrol dengan bule yang satu mobil dengan saya. Dia masih agak panik arrival cardnya belum diisi karena ia terlambat bangun saat sampai di pangkalan sehingga staf Mekong Express tak sempat membantunya. Saya meyakinkan bahwa hal itu tak masalah karena nantinya bisa diisi waktu di imigrasi Thailand. Bule itu bernama Petko, seorang solo traveler yang berasal dari Bulgaria. Ia sudah sebulan melakukan perjalanan Thailand-Kamboja dan akan kembali ke Bangkok untuk kemudian kembali ke Bulgaria pada hari senin.

Tidak sampai lima menit, staf Mekong tadi kembali. Sebelumnya ia membagikan sejenis tanda pengenal dan kemudian menyuruh kami melanjutkan perjalanan ke imigrasi Thailand di Aranyaprathet dan mengatakan bahwa di sana akan ada staf lain yang menunggu untuk memandu kami menuju mobil yang menuju Bangkok. Poipet ke Aranyaprathet bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena letak dua lokasi imigrasi ini memang dekat. 
Poipet Aranyaprathet border
Gapura selamat jalan sebelum memasuki imigrasi Thailand (Photo copyrightmovetocambodia)
Selepas imigrasi Kamboja kami hanya perlu berjalan lurus melewati sebuah gapura sebagai pertanda keluar dari Kamboja hingga bertemu kantor imigrasi Thailand dan kemudian naik ke lantai dua untuk proses masuk cap dan stempel paspor. Gedung imigrasi Thailand cukup bagus, ber-ac, jauh lebih bagus dari Poipet. Saya akhirnya banyak ngobrol dengan Petko, hingga kami tidak tahu dimana rombongan orang-orang yang berasal dari mobil kami tadi.

Jarum jam belum lewat pukul tujuh pagi namun suasana sudah cukup ramai oleh aktivitas warga kedua negara. Selepas paspor kami distempel, dari pintu keluar gedung, kami ngasal menuju ke arah pasar Rong Kluea, melewati sebuah jalan yang menyeberangi rel kereta api, bertemu dengan convenient store 711 dan bertanya kesana kemari tentang pangkalan Mekong Express yang menuju Bangkok. Tak banyak yang tahu dan membantu hingga kami putuskan kembali dan memutar arah hingga akhirnya bertemu dengan dua orang dari rombongan Mekong Express yang sama dengan kami sejak dari Phnomp Penh. 
Kami kesasar hingga 711 di Rong Kluea Market (Photo copyright: movetocambodia)
Dua orang tersebut adalah dua mahasiswa asal Kamboja yang akan menghadiri semacam seminar atau konferensi di Bangkok. Kami akhirnya menunggu di pinggir jalan hingga datanglah seseorang yang menjemput kami ke tempat Taxi and Tourist Vans. Kami menunggu cukup lama di tempat tersebut hingga sekitar pukul 08.30 akhirnya mobil van diberangkatkan.
Peta kawasan Poipet-Aranyaprathet (Photo: Journey-mercies)
Mobil minivan ini diisi sekitar sepuluh orang dengan dua orang sepasang suami istri yang merupakan pemilik mobil duduk di depan. Perjalanan Aranyaprathet-Bangkok ditempuh sekitar 3.5 jam-an dan sempat berhenti dua kali di rest area sekedar untuk mengisi bensin dan memberi kesempatan para penumpangnya untuk beristirahat sejenak dan ke kamar kecil. Di 711 di salah satu rest area di daerah Hua Samrong, saya sempat membeli sim card sebagai amunisi untuk mengakses googlemaps karena memang Bangkok adalah satu-satunya kota di perjalanan solo trip ini yang belum banyak saya pelajari. 
AIS Sim Card Traveller, stay connected in Thailand (Info: ais.co.th)
Kami sampai di ibukota Thailand tengah hari. Saya yang buta dengan Bangkok karena tidak well prepared akhirnya memutuskan untuk turun di Ratchathewi meski tak tahu kemana arah yang akan saya tuju. Saya hanya ingat bahwa hostel saya adalah di dekat stasiun BTS Ratchathewi dan selebihnya akan mengandalkan googlemaps untuk menuju ke hostel. Si Petko yang tujuan awalnya adalah stasiun Hua Lampong akhirnya juga ikut turun membantu saya membaca peta dan menemukan letak penginapan. Saya meminta diturunkan di dekat Stasiun BTS Ratchatewi namun justru diturunkan di Stasiun BTS Phayatai. Alhasil, kami masih harus berjalan lebih kurang 700 meter untuk sampai ke hostel. Setelah sekitar 40 menit berjalan, berputar-putar dan mencari serta bertanya ke orang-orang yang ditemui di jalan, akhirnya kami sampai di Monomer Hostel. 
Stasiun Phaya Thai, tempat saya diturunkan saat sampai di Bangkok 
Lokasi Monomer Hostel dari Phetchaburi Rd. (Photo: Googlemaps 2012)
Monomer Hostel, penginapan saya selama di Bangkok
Monomer hostel adalah nama penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya melalui Booking.com. Letaknya sangat dekat dengan stasiun BTS Ratchatewi, sekitar 2 menit dengan berjalan kaki. Lokasi lebih tepatnya adalah  486/157 Phetchaburi Rd, Thanon Phetchaburi, Ratchathewi, Bangkok. Harga yang saya bayarkan untuk menginap selama dua malam adalah 800 Baht. Karena letak dan reviewnya yang cukup bagus membuat saya memutuskan untuk menginap di hostel ini. Petko yang sedari awal belum memutuskan dimana akan menginap dan lebih suka go show alias mencari tempat penginapan saat sampai di lokasi, akhirnya juga memutuskan untuk bermalam di Monomer. Sayangnya tak ada kamar ataupun bed yang kosong hari itu. Setelah lebih kurang 15 menit beristirahat ia pun melanjutkan perjalanan sambil mencari penginapan di tempat lain. 

Sebelum berpisah, Petko menawarkan untuk jalan bareng besok, ke Grand Palace karena ia tahu bahwa saya masih buta tentang Bangkok, tak tahu mau kemana dan tak punya rencana. Setuju, kami pun melakukan janji temu besok di Sanam Luang. Ia berjanji akan memberikan petunjuk arah dan bus menuju Sanam Luang melalui sms nantinya. Segera setelah Petko pergi dan proses check in selesai, saya segera menuju kamar. Pukul 14.00, kesempatan pertama untuk rebahan akhirnya datang setelah lebih kurang empat belas jam di perjalanan.


Sekitar pukul 16.00 saya terbangun dan kelaparan. Setelah mandi saya berniat untuk mengunjungi pasar Chatuchak yang memang hanya buka saat akhir pekan, namun badan yang masih lelah akhirnya membuat diri hanya bermalas-malasan di kasur. Pukul 16.30 saya mencoba untuk menguatkan tekad, mengangkat badan dan keluar dari hostel. Entah mau kemana hanya membiarkan saja kaki yang melangkah sampai akhirnya menemukan banyak pedagang kaki lima di dekat stasiun BTS Ratchatewi dan di jalan Petchaburi Rd yang mulai menggelar dagangannya saat matahari mulai kembali ke peraduan. Semakin malam semakin beragam barang-barang yang diperjualbelikan. Mulai dari makanan, buah-buahan hingga sandal sepatu dan baju.
PKL di sekitaran jalan Phaya Thai-Ratchathewi
Pemandangan PKL yang biasa berjualan di sepanjang trotoar jalan Petchabuuri Rd 
Salah satu alasan yang membuat Bangkok tersohor adalah karena kota ini terkenal serba murah. Saya membawa pulang dua porsi nasi seharga 10 Baht atau sekitar Rp 4000,- untuk teman sambal roa sebagai menu makan malam kali ini. Bangkok juga surga bagi pecinta buah karena banyak buah-buahan segar yang dijual dengan harga yang cukup murah. 
Bangkok, surga buah segar dan murah yang menggoda (Photo: squirrel)
Saya kembali ke hostel setelah mengantongi nasi dan juga buah sebagai amunisi untuk menu makan malam. Saat sampai di hostel dan bersiap makan di meja makan lobi hostel, seorang lelaki kemudian menyapa saya dalam Bahasa Indonesia 'kamu dari Indonesia?'. Saya menjawab, 'Ya. Bisa bahasa Indonesia?' Dia membalas, 'hmm sedikit-sedikit~' .. Selanjutnya kami mengobrol panjang. Ia adalah Kei, orang Jepang yang pernah setahun tinggal dan kerja di Jakarta dan mengaku jatuh cinta dengan Jakarta. Sebelumnya, ia mengaku sempat was-was dan takut dengan orang-orang muslim di Indonesia namun begitu tiba di Jakarta, ia justru terkejut dengan orang-orangnya yang ramah. Bahkan meski pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan di Jakarta yaitu perampokan, dan dengan keadaan semrawut dan macetnya ibukota, persepsi Kei terhadap Jakarta masih positif. Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan antusiasnya dia bercerita.

Sebelumnya saya juga bertemu dengan seorang perempuan Korea yang awalnya saya sapa dengan bahasa Korea, -hitung-hitung sedikit praktek dari apa yang saya pelajari dari internet-. Ia mengatakan bahwa pronouncation saya bagus dan kemudian kami bertukar kontak karena saya bercerita akan ngetrip ke Korea pada bulan April dan ia meminta saya untuk menghubunginya saat sampai di Busan. Saya juga bertemu dengan Jade, seorang perempuan Amerika yang juga solo traveler yang ternyata juga pernah tinggal di Korea menjadi seorang guru bahasa inggris. Kami banyak mengobrol tentang banyak hal, mulai dari Korea hingga pengalaman traveling.
Bersama solo traveler lain dari Amerika, Jade.
What a day! Saya bersyukur bisa sampai dengan selamat hingga ke negara kelima, Thailand. Saya juga bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baru yang tidak hanya sekedar teman mengobrol namun tak jarang juga membantu sepanjang perjalanan. Salah satu kunci untuk bertahan hidup saat solo traveling adalah tidak malu bertanya atau hanya untuk sekedar menyapa. Kemudian kata 'Where do you come from?' menjadi kata paling magis yang menjadi awal pertemanan dan membuka obrolan. Teman yang ditemui sepanjang perjalanan akan semakin membuat traveling menjadi lebih mengesankan. "Solo traveling is always challenging and if you want new friends? You’ll have all the new friends you could ever want. Seriously. You will learn about other people, sure, but you’ll also learn a ton of stuff about yourself".



You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com