Solo Trip Almost End: Bangkok, Jelajah Grand Palace dan Sekitarnya (008)

by - October 28, 2015

Sawadeeka, Bangkok~
Minggu, 8 Februari 2015. Hari kelima masih dalam perjalanan seorang diri ke enam negara asia tenggara. Cuaca minggu pagi di Bangkok cukup bagus untuk agenda hari ini yang memang dikhususkan untuk berkeliling ibukota Thailand. Saya dan teman saya selama di Bangkok, masih dengan Petko, bersepakat bertemu jam 8 pagi di Sanam Luang karena rencana kami adalah mengunjungi Grand Palace. Sanam Luang adalah sebuah lapangan terbuka dan ruang publik yang terletak di depan Wat Phra Kaew atau Grand Palace. 
Wat Phra Kaew yang tampak dari Sanam Luang
Keluar dari hostel sekitar pukul 07.30, jalanan Bangkok masih sangat sepi. Beberapa menit saya hanya mondar-mandir di pinggir jalan. Meski sudah dijelaskan oleh Petko cara menuju Sanam Luang dengan menggunakan bus, saya masih tak pede dan takut kesasar. Beberapa saat kemudian melintas seorang tukang ojek yang menawarkan harga 100 Baht menuju Sanam Luang. Oke deal, saya harap bisa langsung sampai tanpa tersesat dan tanpa telat. Sensasi berkendara motor di Bangkok ternyata tak jauh berbeda dengan Indonesia. Tak berhelm, menerobos palang kereta api dan ngebut ditambah lost in translation. Sempat dua kali diturunkan di tempat yang salah, saya akhirnya turun di National Museum dan kemudian berjalan kaki menuju lapangan Sanam Luang. 
Kawasan pedestrian di Sanam Luang
Sanam Luang merupakan lapangan dengan taman dan kawasan pedestrian yang nyaman di pinggir-pinggirnya. Banyaknya pepohonan rindang yang menciptakan suasana sejuk di tempat ini mengundang banyak orang untuk berolahraga, sekedar istirahat santai atau bahkan, tidur. 
Aktifitas minggu pagi di Sanam Luang
Pemandangan yang (sepertinya sangat) lazim di Sanam Luang
Saat saya sampai, Petko juga baru sampai. Setelah Petko sarapan roti bersama kopi hangat yang dibelinya dari 711, kami kemudian segera menuju ke Grand Palace. Sepanjang jalan kami ngobrol berbagai hal, mulai dari apa yang dilakukannya kemarin selepas kami berpisah di Monomer, hingga mengajari saya konsep-konsep dasar fotografi. 
Not sure what was going on~
Situasi jalan Na Phra Lan di sekitar pintu masuk Grand Palace
Icon Thailand, di persimpangan jalan dekat pintu masuk Grand Palace
Mengintip istana dari luar. Hanya orang-orang lokal yang bisa masuk lewat pintu ini
Kami masuk dan situasi di depan loket sudah sangat ramai. Selain didominasi wisatawan asing, warga lokal juga banyak mengunjungi tempat ini untuk melakukan peribadatan. Tiket masuk kompleks Grand Palace adalah 500 Baht dijual hingga pukul 3 sore tiap harinya. Sedangkan jam buka Grand Palace adalah dari pukul 9.30 hingga pukul 15.15. Pengunjung juga akan mendapatkan brosur berisi informasi mengenai seluk beluk Grand Palace beserta peta dan keterangannya. Pengunjung Grand Palace juga diharuskan memperhatikan kesopanan dengan mematuhi beberapa peraturan diantaranya pengunjung tidak diperkenankan memakai baju tank top atau sleeveless, celana pendek, dan baju transparan.
Situasi di depan loket masuk Grand Palace
Brosur yang diberikan kepada pengunjung saat memasuki kawasan Grand Palace
Kompleks Grand Palace didirikan pada tahun 1782 yang di dalamnya tidak hanya merupakan kediaman keluarga kerajaan namun juga terdapat beberapa bangunan kantor pemerintahan serta juga kuil terkenal the Temple of Emerald Budha. Kawasan Grand Palace mencakup area seluas 218.000 meter persegi yang dikelilingi oleh empat tembok sepanjang 1900 meter. Dua bangunan yang dibangun pertama di dalam kompleks Grand Palace adalah The Dusit Maha Prasat Throne Hall dan Phra Maha Monthian.
Welcome to Wat Phra Kaew, The Temple of Emerald Budha
Kami kemudian berkeliling ke dalam Grand Palace. Bagian utara dari kediaman anggota kerajaan terhubung dengan gerbang menuju vihara atau kuil Emerald Budha, salah satu situs paling dimuliakan di Thailand untuk menghormati Budha dan ajarannya. Pengunjung yang masuk ke dalam temple of Emerald Budha dilarang untuk mengambil gambar dan menggunakan topi. Di dalam bangunan ini terdapat patung Emerald Budha yaang terukir dari bongkahan batu sejenis giok yang pertama kali ditemukan pada tahun 1434 di Chiang Rai.
Bangunan Temple of Emerald Budha
Interior luar dari bangunan Temple of Emerald Buddha
Dinding-dinding luar yang menghiasi kuil Emerald Budha
Suasana di dekitar kuil Emerald Budha
Masih di sekitar Temple of Emerald Budha, terdapat beberapa bangunan yang dikenal dengan teras atas (upper terrace). Teras atas ini terdiri dari empat monumen utama, sebuah miniatur Angkor Wat; Mandop (tempat penyimpanan naskah-naskah suci umat Budha yang ditulis di dedaunan); Royal Phanteon dimana patung-patung dari petinggi-petinggi pemerintahan dinasti Chakri diabadikan, serta Phra Siratha Chedi berbentuk emas yang merupakan sebuah relikui dimana tempat peninggalan dan barang pusaka disimpan.
Bangunan-bangunan yang terletak di upper terrace
Letaknya yang diatas membuatnya disebut upper terrace
The Royal Pantheon yang terlihat dari Kuil Emerald Budha
Prasat Phra Dephbidorn (The Royal Pantheon)
Phra Mondhop (1)
Phra Mondhop (2)
Phra Siratha Chedi (1)
Phra Siratha Chedi (2)
Mythical being yang banyak ditemui di sekitar upper terrace
Potret pengunjung di sekitar upper terrace
Di bagian utara upper terrace, terdapat tiga bangunan yaitu Hor Phra Monthian Dharma yang merupakan sebuah perpustakaan naskah-naskah dan kitab-kitab suci; Phra Wiharn Yod yang didalamnya terdapat beberapa patung Budha; serta Hor Phra Naga, yaitu makam-makam yang berisi abu yang telah dikremasi dari jasad anggota keluarga kerajaan yang telah meninggal. Pada bagian barat terdapat dua kapel kecil, Hor Phra Rajphongsanusorn di bagian selatan dan Hor Phra Rajkormanusorn di bagian utara. Hor Phra Rajkormanusorn berisi lukisan-lukisan dan patung-patung Budha yang dipersembahkan untuk raja-raja Ayuthaya pada masa lampau sementara Hor Phra Rajphongsanusorn dipersembahkan untuk dinasti saat ini. 
Phra Wiharn Yod
Galeri yang terletak di dinding-dinding di seberang Phra Wiharn Yod
Di kawasan Royal Palace juga terdapat galeri berupa lukisan-lukisan di dinding yang merupakan kisah dari Ramakien yang dilukis pertama kali saat masa pemerintahan King Rama I dan sejak saat itu telah mengalami beberapa kali pemugaran. Kisah pertama dari cerita ini ditemui di samping gerbang timur, di seberang Phra Wiharn Yod.
Lukisan-lukisan ini mengisahkan cerita Ramakien
Berikutnya kami beranjak menuju ke area Phra Maha Monthian yang terdiri dari tiga bangunan utama yaitu The Audience Hall of Amarindra Winitchai yang digunakan dalam beberapa upacara kenegaraan seperti peringatan ulang tahun raja; The Paisal Taksin Hall dimana upacara penobatan atau naik takhta diadakan, dan The Chakraphat Phiman Hall yang dulunya merupakan tempat tinggal Raja Rama I, II, dan III yang kemudian digunakan menjadi sebuah proses adat atau kebiasaan bagi raja untuk menghabiskan setidaknya sehari di tempat ini setelah prosesi di hari penobatan sebagai pertanda telah menduduki kediaman kerajaan secara resmi.
Bangunan-bangunan di area Phra Monthian
Pengunjung yang akan bergerak menuju istana Chakri
Berikutnya kami berjalan menuju istana Chakri dimana terdapat Central Throne Hall yang biasa digunakan untuk penerimaan tamu-tamu negara, duta-duta besar untuk keperluan diplomatik dan untuk jamuan resmi kenegaraan bagi kepala negara lain yang sedang berkunjung. The Chakri Maha Prasat dibangun oleh raja Chulalongkorn (King Rama V).
Central Throne Hall Chakri Palace (1)
Central Throne Hall Chakri Palace (2)
Central Throne Hall Chakri Palace (3)
Kami kemudian menuju ke bangunan yang digolongkan kedalam The Dusit Group yang terdiri dari Dusit Maha Prasat Throne Hall dan Amphorn Phimok Pavilion. The Dusit Maha Prassat Throne Hall dibangun oleh Raja Rama I untuk menggantikan Amarintharapisek Maha Prasat yang terbuat dari kayu yang terbakar habis pada tahun 1970. 
Menuju Dusit Maha Prasat Throne Hall dan Amphorn Phimok Pavilion
Dusit Maha Prasat Throne Hall (1)
Dusit Maha Prasat Throne Hall (2)
Setelah puas berjalan-jalan di dalam Grand Palace, kami kemudian membiarkan kaki melangkah, berkeliling masih di sekitar kawasan Grand Palace. Kami sempat ke kawasan pinggir sungai sekedar meliha-lihat sebelum kemudian akhirnya bertemu kembali dengan Sanam Luang. Jam menunjukkan pukul 13.00 dan Petko mengajak makan siang namun saya memilih kembali ke hostel. Saya menjelaskan pada Petko bahwa saya tidak boleh sembarangan makan karena bagi muslim, ada yang boleh dimakan dan tidak. Kami akhirnya berpisah di dekat Khaosan Road dan Petko menunjukkan jalan pulang menuju ke hostel dengan menggunakan bus. Sebelumnya Petko berjanji untuk menemani saya keliling Khaosan Road nanti sore untuk mencari patches bendera titipan teman-teman kantor.
Suasana lalu lintas di sekitaran Grand Palace
Mengintip Wat Pho dari daerah pinggiran sungai Chao Phraya
Deretan restoran sepanjang sungai yang menawarkan pemandangan Chao Phraya River
Temple of Dawn atau Wat arun tampak dari seberang sungai Chao Phraya
Perahu-perahu yang juga dimanfaatkan sebagai wisata di sepanjang aliran sungai Chao Phraya
Bangkok, the city of tourists
Mengintip salah satu bangunan di kawasan Wat Pho dari jalanan pedestrian
Hasil berburu gambar dari sekitaran Grand Palace
Pedagang kaki lima yang banyak berjualan di sekitar kawasan Grand Palace
Jajanan pinggir jalan di Bangkok (1)
Jajanan pinggir jalan di Bangkok (2)
Sementara si Petko mencari makan siang, saya berhasil kembali ke hostel dan memutuskan untuk istirahat. Minggu Sore hanya saya habiskan dengan packing dan beristirahat di hostel hingga matahari terbenam. Sesekali mengobrol dengan orang-orang yang saya temui di kamar. Selepas Maghrib, saya hanya berjalan-jalan di sekitar hostel, mencari nasi dan malas-malasan untuk kembali ke Khaosan Road. Pukul 19.00, si Petko menelepon dan menjelaskan bus yang bisa membawa saya ke Khaosan Road. Biaya untuk naik bus di Bangkok cukup murah sekitar 10 Baht. Di dalam bus, untungnya ada seorang ibu-ibu atau bapak-bapak (saya tak yakin) yang sangat baik membantu hingga saya sampai di Democracy Monument di dekat Khaosan Road. Di tempat saya turun bus, Petko sudah menunggu di seberang jalan.
Khaosan Road saat malam (Photo courtesy: Shannnonberner)
Khaosan Road adalah kawasan pusat backpacker yang sangat terkenal di Bangkok. Di sepanjang jalan Khaosan banyak ditemui budget hostel, tempat nongkrong, restoran, pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam barang dagangan mulai dari kerajinan tangan, hingga makanan-makanan aneh seperti berbagai jenis serangga. Sayangnya untuk mengabadikan barang dagangan aneh itu tidaklah gratis. Ada Baht yang harus dibayar sekedar untuk mengambil foto. 
Cemilan serangga yang banyak dijual di Khaosan Rd. (Photo Courtesy: CrispOfLife)
Semakin malam kawasan Khaosan Road akan semakin ramai. Kata Petko, musik akan datang bertubi-tubi dari berbagai arah saling beradu keras dan orang-orang akan mulai turun ke jalan untuk berpesta. Itulah mengapa saya sama sekali tidak berniat mencari penginapan di daerah ini karena pasti sangatlah berisik saat malam tiba. Setelah misi saya selesai, patches bendera-bendera sudah di tangan dan tiba di ujung kawasan Khaosan Road, kami berpamitan. Karena kami sama-sama akan kembali ke negara masing-masing dan meninggalkan Bangkok besok, saya pun berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih pada Petko yang sudah menjadi guide selama saya di Bangkok.
Beberapa flag patches titipan teman yang saya dapat di Khaosan road
Saya kembali ke hostel pukul 21.30 dan jalanan Bangkok sudah sangat sepi namun untungnya bus terakhir beroperasi hingga pukul 22.00. Meski sempat diwarnai drama kebablasan hingga Pratunam, pukul 22.20 akhirnya saya bisa sampai hostel dengan selamat sentosa. Ini adalah hari terakhir sebelum akhirnya besok meninggalkan Bangkok. Tak ada yang lebih saya syukuri di perjalanan kali ini selain dipertemukan dengan orang-orang baik selama perjalanan. Bahwa memang benar kata perempuan Skotlandia yang saya temui di hostel yang mengatakan bahwa solo traveling doesn't mean you are alone. Tuhan dan alam berkonspirasi sedemikian rupa untuk membantu saya dalam perjalanan kali ini. Prinsip saya saat melakukan perjalanan adalah sebisa mungkin berbuat baik pada orang lain, menghormati adat setempat dan bersikap sopan. Bahwa apapun yang kita lakukan, ibarat pepatah "siapa yang menanam, dia yang akan menuai". Jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Demikian pula sebaliknya. Termasuk saat traveling, saat kita membantu orang lain, suatu saat kita juga pasti akan dibantu orang lain. Sesimpel itu.
Terimakasih Petko, teman sekaligus guide saya selama di Thailand

You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com