SOLO TRIP KOREA. Day 1 Part 1: Arrived and Nothing To Do~ (001)

by - November 09, 2015

Annyeonghaseyo, Korea! (Location: Nampodong, Busan)
Akhirnya menulis tentang Korea! Tak terasa, musim sudah dua kali berganti dan ternyata sudah lebih dari setengah tahun yang lalu, perjalanan saya seorang diri ke Busan-Seoul, Korea Selatan berlalu. Perjalanan saya ke Korea selama seminggu berlangsung pada tanggal 20-27 April 2015 silam. Saya berangkat dari Jakarta tanggal 19 April 2015. Yup, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Anak desa pergi ke Korea, seorang diri!
Bersama dengan teman yang juga gila traveling saat melepas saya menuju Korea :D
Jam 18.35 waktu Jakarta, pesawat lepas landas menuju Kuala Lumpur. Pesawat yang saya tumpangi adalah maskapai low cost carrier yang merupakan penerbangan lanjutan atau connecting flight dari Jakarta-KL-Busan. Pesawat mendarat di KLIA2 tepat pukul 21.40 waktu KL dan penerbangan menuju Busan baru akan lepas landas pukul 01.15. Karena connecting flight, immigration clearence tidak diperlukan dan saya tinggal melenggang bebas tanpa harus keluar dulu dari keimigrasian dan bagasi juga langsung diteruskan menuju ke destinasi akhir. Selama empat jam transit, saya habiskan dengan berdiam diri di Musholla Bandara KLIA2 yang sangat nyaman.

Jam 23.30 saya menuju gate keberangkatan. Suasana Korea mulai terasa. Pesawat lepas landas tepat pukul 01.15. Saya mendapatkan tempat duduk di samping jendela, sementara dua kursi di sebelah kosong. Lumayan bisa sebagai tempat rebahan, pikir saya. Namun itu hanya angan-angan karena tempat duduk dambaan tak lama kemudian diisi oleh seseorang. Saat di pesawat, flight attendant akan memberikan arrival card dan semacam dokumen declare yang harus diisi untuk proses keimigrasian.
Declare & arrival card yang harus diisi sebelum memasuki Korea Selatan
Korea adalah tempat terjauh di bumi ini yang pernah saya kunjungi dan penerbangan ini adalah my very first long-haul flight. Selama di pesawat saya terus gelisah, mencoba posisi paling nyaman untuk tidur hingga sakit perut yang sekilas datang kemudian menghilang. Dari perut kosong-lalu terisi-hingga kosong lagi; dari posisi tidur-kemudian bangun-lalu tidur lagi-hingga bangun lagi, pesawat masih belum juga mendarat. Waktu terasa berjalan jauh lebih lama dari kodratnya. Setelah lebih kurang 6.5 jam perjalanan, pesawat akhirnya mendarat di Gimhae International Airport Busan. Welcome to Korea!
In the middle of nowhere, di atas langit Korea
Sayangnya cuaca yang didambakan hangat-bak-pelukan ternyata tak sesuai harapan. Cuaca dingin dan gerimis membuat saya agak shock. Hujan yang membasahi bumi Busan pagi itu cukup membuat semangat yang tadinya berapi-api berubah padam. Semua rencana langsung buyar. Tempat-tempat yang ada pada itinerary yang saya susun, mayoritas berada di luar ruangan dan jika cuaca demikian, apalah dayaku yang hanya seorang diri tanpa teman. Antara perasaan excited, senang dan masih berusaha percaya bahwa saya telah berada di Korea, langsung berbentur dengan kenyataan bahwa cuaca tak sehangat yang diharapkan. 
Mendarat di Busan dan disambut cuaca yang kurang bersahabat
Selepas beres imigrasi dan mengambil bagasi, saya berakhir dengan hanya duduk termenung dan terpaku di depan sebuah convenient store di terminal kedatangan Bandara Gimhae. Belum-belum sudah depressed! Bagaimana tidak, belum usai shock dengan cuaca, saya harus mengikhlaskan luggage cover saya hilang dan gembok tambahan di koper saya sudah rusak dengan kondisi resleting yang agak terbuka. Untungnya saya tak kehilangan apapun. Depresi, saya hanya memandangi TV yang menyala di depan mata dengan tatapan kosong. Dan ya, sejauh mata memandang tulisan hangeul* merajalela. Well, selamat datang di negara dimana alfabet seolah tak punya kuasa. 
Welcome to Korea, dimana alfabet seolah tak lagi punya kuasa :)
I do nothing hingga memotret apapun yang terlihat agak unik
Jam masih menunjukkan pukul 09.30 pagi dan tak mungkin bagi saya untuk check in di hostel. Saya putuskan untuk mengambil uang dan membeli kartu transportasi yang akan saya gunakan selama di Busan bernama Cashbee card. Seperti e-money card, kartu ini selain sebagai kartu transportasi juga bisa digunakan untuk pembayaran lain semisal untuk berbelanja di mini market. Harganya sekitar 2000 won dan saya isi atau top-up sebesar 10.000 won. Tempat membelinya adalah di convenient store 711 di terminal kedatangan di sebelah kiri selepas keluar imigrasi. Saya juga sempat mencoba mengambil uang di atm namun gagal. Kartu atm Indonesia bisa digunakan di Korea namun sepertinya di Busan agak susah sehingga saya putuskan untuk mengambil uang saat di Seoul.
Cashbee card, kartu transportasi yang digunakan di Busan
Cashbee card juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran di beberapa merchant
Saya putuskan untuk langsung menuju hostel yang terletak di dekat Busan Station sekedar untuk menitipkan barang. Begitu keluar dari pintu bandara, Breeezzeeee~ GOD, IT’S SO DAMN COLD!! Saya balik lagi ke dalam, cek hape dan selamat! Anda mendapatkan cuaca 13 derajat. Saya buka backpack dan dressing more properly alias menambah lapisan jaket lengkap dengan syal seadanya. Saya berjalan lagi keluar. Hujan semakin deras, angin semakin dingin dan dengan susah payah menyeret koper, saya segera menuju ke stasiun LRT Gimhae International Airport meski beberapa kali sempat nyasar dan bertanya sana-sini tapi tak ada yang paham. Stasiun ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan menyeberang jalan ke arah kanan, sekitar 150 meter dari pintu keluar terminal internasional. 
Denah Gimhae Int'l Airport. (Source: wordtravelguide)
Perjuangan dimulai, naik turun tangga dengan backpack di bahu, tas kamera di depan dan koper diseret dengan penampakan diri bak gembel. Sebenarnya ada bus langsung dari bandara Gimhae menuju Busan Station seharga 6000 won. Namun sebagai gembel backpacker, saya lebih memilih naik subway untuk menghemat budget yang hanya menghabiskan sekitar 1600 won. Hitung-hitung sekalian mencoba tantangan naik turun tangga subway di Korea yang terkenal 'Jahannam' saking banyaknya anak tangga. Meski di beberapa stasiun tertentu ditemui eskalator namun mayoritas stasiun masih menggunakan tangga biasa yang cukup bagus untuk olahraga cuma-cuma. 
Gimhae Int'l Airport Station LRT (1)
Gimhae Int'l Airport Station LRT (2)
Rute perjalanan dari Bandara Gimhae menuju Busan Station dengan menggunakan kereta adalah sebagai berikut: Naik Busan-LRT (warna ungu) dari stasiun Gimhae International Airport menuju stasiun Sasang (2 stasiun, dengan waktu tempuh sekitar 6 menitan). LRT atau Light Rail Transit adalah kereta yang jalurnya di atas. Sesampainya di stasiun Sasang, harus keluar stasiun untuk transfer ke stasiun bawah tanah atau subway yaitu Line 2 (warna hijau) jurusan Gamjeon dan turun di stasiun Seomyeon (7 stasiun, dengan durasi tempuh sekitar 15 menit). Dari Seomyeon kemudian transfer ke Line 1 (warna oranye) jurusan Beomnaaegol dan turun di Busan Station (5 stasiun, dengan durasi tempuh sekitar 11 menit).
Dari stasiun LRT Sasang menuju ke stasiun subway Sasang 
Penampakan stasiun bawah tanah di Busan Station
Sebenarnya akan lebih murah membeli tiket subway one day pass seharga 4500 Won jika hanya menggunakan subway untuk berkeliling kota Busan. Namun karena rencananya beberapa tempat akan saya kunjungi dengan menggunakan bus, akhirnya saya pun memilih menggunakan Cashbee card. Jangan khawatir jika Anda pertama kali menggunakan mesin pembelian tiket subway karena akan ada petugas yang senantiasa membantu dan jikalau pun tak ada, jangan sungkan meminta bantuan orang lokal karena orang Korea memang suka membantu. 
Tiket subway one day pass untuk di Busan
Saya sampai di Busan station sekitar pukul 11-an dan yah, masih hujan sodara-sodara. Angin makin kencang dan payung sudah terbalik tak beraturan. Belum lagi harus mengangkat koper naik tangga untuk keluar stasiun. Jarak stasiun Busan dengan hostel juga lumayan jauh dengan jalanan yang agak menanjak. Sampai di hostel saya dipersilahkan untuk cuci muka meski tak boleh mandi dulu. Mungkin karena melihat muka kucel saya, si mbak petugas hostelnya menjadi kasihan. 
Hujan gerimis menemani sepanjang jalan menuju hostel
Selepas beres menitipkan barang-barang di hostel, saya pamit untuk nantinya kembali dan check-in. Saya kembali ke stasiun subway Busan station dan duduk di dalam stasiun, menghangatkan diri dan hanya memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Bingung entah mau kemana, saya memutuskan untuk pergi ke daerah Nampodong dimana pasar Jagalchi, pasar seafood terbesar di Korea berada. Keluar dari stasiun, hujan semakin deras. Dalam posisi kebingungan membaca peta dan ngasal jalan, saya berakhir di jalan Gwangbok yang didominasi deretan toko-toko bermerek. 
Hujan kembali turun saat keluar stasiun Nampodong
Busan merupakan kota di pinggir laut yang juga dikelilingi oleh pegunungan
Salah satu sudut ikonik yang ada di jalan Gwangbok
Beberapa lama berputar-putar di Gwangbok street, saya menemukan sebuah eskalator yang menuju Yongdusan Park, tempat Busan Tower berada. Menyusuri eskalator seorang diri dan bertemu sebuah kuil sebelum sampai di Yongdusan Park, serta mengambil beberapa foto lampion khas Korea. Pertemuan tak disengaja dengan eskalator ini membuat saya kembali bersemangat. Setidaknya saya tidak gagal total di hari pertama di Korea. Meski hujan sudah reda dan masih agak dingin, cuaca demikian terhitung cukup bersahabat untuk keliling Yongdusan Park.
Eskalator menuju Yongdusan Park aka Busan Tower
Sebuah kuil yang ditemui setelah naik eskalator menuju Yongdusan Park
Lampion-lampion yang menghiasa kuil
Patung Budha penanda kuil
Eskalator berikutnya menuju Yongdusan Park
Saya berniat selfie saat menaiki eskalator, mumpung sepi, pikir saya. Detik berlalu tiba-tiba terdengar, ‘Hei Miss, can I help you?’.  Suara datang dari belakang, seorang ahjussi (bapak-bapak paruh baya) memanggil saya. Ia menawarkan diri membantu saya mengambil foto yang terlihat agak kesulitan. ‘Sure!’. Saya menyapa dua ahjussi tsb dan sedikit berbicara bahasa Korea hasil curi-curi belajar sendiri saat waktu luang, ceilaahhJadi makin termotivasilah saya praktekin bahasa Korea dengan para native speaker ini. Kami bertiga berbincang banyak dan sesekali membantu saya mengambil gambar.
Foto pertama di Korea
Bertemu dengan dua ahjussi tersebut membuat hari pertama saya di Busan yang awalnya buram karena semua rencana buyar akibat cuaca yang tidak bersahabat, kemudian menjadi lebih menarik karena justru dibarengi dengan kebaikan yang datang. Yup, Tuhan selalu bersama hambanya, termasuk para solo traveler. :)) Cerita selengkapnya akan menyusul di postingan berikutnya. Annyeong~
-bersambung-

You May Also Like

0 comments