SOLO TRIP KOREA. Day 1 Part 2. Berkah di Yongdusan Park (002)

by - November 29, 2015

Busan Tower yang terletak di Yongdusan Park (Busan, spring 2015)
Masih hari pertama ketibaan saya di Korea 20 april 2015. Setelah hujan membasahi bumi Busan mulai mereda di waktu menjelang sore, berkah kemudian datang seiring pertemuan saya dengan dua orang ahjussi saat naik eskalator menuju Yongdusan Park. Dua orang tersebut adalah Mr. Lee dan Mr. Seo yang merupakan dua orang sahabat yang datang dari Seoul. Keduanya datang ke Busan untuk healing karena Mr. Seo sudah mulai sakit-sakitan hingga harus banyak latihan berjalan. Dan tempat yang dipilih adalah, Yongdusan Park.
Yongdusan Park tampak dari atas (Busan Tower)
Yongdusan Park adalah sebuah taman yang terletak di Jung-gu, Busan, dimana sebuah menara setinggi 118 meter yaitu Busan Tower berada. Nama Yongdusan berasal dari kata Yongdu yang berarti kepala naga dan -san yang berarti gunung. Yongdusan park mencakup area seluas 69.000 meter persegi yang biasanya dimanfaatkan warga sebagai tempat jalan-jalan, bersantai, jogging, olahraga kecil, maupun tempat healing atau relaksasi.
Walking Path di Yongdusan Park
FYI, ada sekitar 70 jenis pepohonan yang tumbuh di kawasan Yongdusan Park
Demi melatih Mr. Seo tetap sehat, kami bertiga akhirnya berjalan mengitari Yongdusan Park hingga sampai ke lokasi Busan Tower. Sepanjang jalan kami bertiga mengobrol dengan ditemani udara yang sangat bersih, cuaca yang sejuk dan rindangnya pepohonan di sepanjang kanan kiri jalan. Sesampainya di pelataran Busan Tower, Mr. Lee senantiasa membantu menolong saya mengambil gambar tanpa pernah diminta. Alhamdulillah biar ngga malu-malu amat dah kalopun kudu selfie. 
Thanks to Mr. Lee for capturing me
Setelah cukup berkeliling di pelataran Busan Tower, Mr. Lee kemudian membelikan tiket masuk gratis ke Busan Tower untuk melihat keseluruhan kota Busan. Memang, dalam perjalanan tadi Mr. Lee sempat melontarkan ucapan 'Today is your day. Don't worry 'bout the money. I'll treat you today' . Seneng dong? Pastilah. Bahasa Korea pas-pasan yang saya praktekan ditambah cerita saya yang datang seorang diri plus telah mempersiapkan perjalanan ini dari tahun lalu membuat Mr. Lee entah takjub atau kasihan -beda tipis- akhirnya dengan senang hati mentraktir saya bahkan bersama dengan makan siang hari itu.
I wonder how Busan looks like from the 118meters height
Puncak Busan Tower adalah observatorium yang dicapai dengan menggunakan lift. Saat sampai di tempat ini, keseluruhan kota Busan tampak begitu indah meski saat itu mendung yang tersisa masih menaungi langit di setiap penjuru kota. Busan adalah kota yang komplit dengan laut sekaligus pegunungan yang mengelilinginya. Dari atas Busan Tower, tempat-tempat wisata terkenal Busan juga tampak diantaranya Jagalchi Market, Haeundae Beach, Gamcheon Cultural Village dan Gwangan Bridge.
Pemandangan kota Busan dari Busan Tower
Daerah Nampodong dengan pelabuhan dan pasar seafood terbesar di Korea, Jalgachi
Selain sebagai juru foto, Mr. Lee juga layaknya guide bagi saya karena senantiasa menjelaskan banyak hal tentang Busan termasuk mengenai sejarah dan perkembangannya. Di dinding-dinding di bawah jendela observatorium terdapat beberapa potret sejarah yang diabadikan dalam bingkai-bingkai foto yang bercerita mengenai sejarah perkembangan kota Busan. Mr. Seo sendiri tidak bisa berbahasa inggris sehingga saya lebih banyak mengobrol dengan Mr. Lee yang lebih fasih berbahasa inggris karena pernah tinggal selama sepuluh tahun di Australia.
Jembatan Yongdodaegyo yang tampak di luar diceritakan dalam sebuah foto yang ada di Busan Tower
Dibangun tahun 1966, jembatan ini dibuka-tutup saat ada kapal besar yang melintas
Setelah puas melihat-lihat pemandangan kota Busan dari atas menara, kami kemudian turun dan sempat mampir ke toko souvenir yang ada di lantai dasar untuk sekedar melihat-lihat kerajinan tangan yang dijual di tempat ini sebelum kemudian beranjak dari Yongdusan Park. Mr Lee membawa kami ke restoran di kawasan Gwangbok Underground Shopping Center. Sayangnya saat kami sampai, tempat itu sedang tutup hingga akhirnya kami putar balik menuju jalan Sinchang-dong dan masuk ke sebuah restoran bernama Kkongbatte
Menuju jalan Sinchang-dong, letak restoran Kkongbatte berada
Mr. Lee bertanya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh saya makan. Anything but meat. Mr. Lee akhirnya memesankan makanan Haemul-sundubu jjiggae (Seafood soft tofu stew), dan Kkongbiji jjiggae (Ground-soybean stew). Dalam adat makanan Korea, dikenal side dishes yang disebut Banchan. Banchan bukan hanya sekedar appetizers, melainkan juga sebagai hidangan dengan porsi yang tak lebih besar dari hindangan utama yang disajikan bersama nasi dan juga sup. Di restoran ini Banchan disajikan dengan sistem prasmanan. Pengunjung bisa menikmati Banchan sepuasnya asalkan tidak bersisa. Ada charge sebesar 2000 won dari tiap jenis Banchan yang tidak dihabiskan. 
콩비지찌개 - Kkongbiji jjiggae (Ground-soybean stew)
Sujeo - sebutan untuk sendok-sumpit khas korea
Sepanjang makan siang kami juga berbincang banyak hal mulai dari ketertarikan saya terhadap Korea hingga alasan saya memakai hijab dan mengapa saya tidak bisa makan daging. Well, belakangan saya baru mengetahui bahwa dua menu yang dibawah ini adalah babi. Meski tak memesan menu tersebut, saya merasa bersalah terhadap diri sendiri. Semoga saya tidak memakan daging atau apapun itu dan semoga Tuhan memaafkan ketidaktahuan saya makan di tempat yang menjual masakan babi. :(
Kkongbatte's menu
Interior di dalam restoran 
Suasana di dalam restoran Kkongbatte 
Tak banyak yang saya makan dan selebihnya Mr. Seo yang membantu menghabiskan. Bagi saya, masakan Korea di negara asalnya ternyata tak lebih enak dari yang pernah saya cicipi di restoran Korea di Jakarta. Sindrom telat makan, sakit maag, masuk angin dan kaki yang sudah pegal berhasil membujuk saya untuk segera kembali ke hostel dan rebahan. Setelah keluar dari restoran saya pamit undur diri pada Mr. Lee dan Mr. Seo meski sebenarnya keinginan untuk jalan-jalan masih sangat menggebu. saya pikir, karena di negeri nun jauh ini saya sendiri dan masih ada tujuh hari disini, serta tak ada orang yang akan merawat saya jika saya sakit nanti, maka menjaga tubuh tetap fit adalah yang utama dan istirahat yang cukup adalah kuncinya. Meski tak enak hati karena -selesai makan pulang-, saya tetap pamit undur diri, meminta maaf dan berterimakasih pada kedua ahjussi tersebut atas kebaikan hari ini. Semoga di lain waktu kami diberikan kesempatan untuk bertemu kembali. :)
Mr. Lee dan Mr. Seo saat mengambil Banchan
Cuaca masih bersahabat, tak lagi hujan dan sempurna untuk perjalanan kembali ke hostel. Rute yang sama ditempuh menuju stasiun Nampo-dong dan kembali melewati 'Myeongdong'-nya Busan. Kawasan yang biasa disebut Gwangbok-dong cultural and fashion street ini merupakan kawasan yang menjadi pusat perbelanjaan, mode, seni, dan budaya di Busan. Jalanan Gwangbok-dong dipenuhi deretan toko-toko mulai dari toko yang menjual barang-barang murah yang bisa ditawar hingga toko-toko bermerek dengan barang-barang mewah dan mahal. Di jalan-jalan kecil di kawasan Gwangbok-dong ini saya menemukan banyak baju-syal atau bahkan coat yang dijual mulai dari 5000 won-15.000 won. Murah sih, tapi mengingat masih hari pertama dan takut khilaf alias dompet kempes sebelum waktu yang seharusnya, saya menahan diri alias hanya numpang lewat dan permisi doang. Belakangan saya agak menyesal karena di Seoul tak ada yang semurah itu. -Mohon maaf. Beginilah memang, kodratnya perempuan-.
Jalanan kecil menuju kawasan Gwangbok
Gwangbok-dong fashion and cultural street (1)
Gwangbok-dong fashion and cultural street  (2)
Walking and shopping? Then you better to stop by.
Deretan toko-toko di kawasan pusat Gwangbok-dong fashion and cultural street 
Sesampainya di hostel pukul 15.00-an, saya segera check-in, bebersih dan istirahat. Dingin mulai terasa menembus tulang, pukul 18.00 saya terbangun dan mendapati diri dalam keadaan kelaparan. Untunglah, bekal nasi siap saji sudah tersedia hasil beli di GS25 (semacam ind*mart-nya Korea) seharga 1.300 won. Tips berhemat di Korea: bawa makanan dari Indonesia. Saya sendiri membawa mie instan 2 biji dan 2 sambel cakalang serta kering kentang. FYI, sekali makan di Korea paling murah sekitar 7.000-10.000 won (Rp 84.000-120.000). Selain menghemat, membawa bekal dari Indonesia juga solusi untuk muslim yang susah mendapatkan makanan halal di negara non-muslim seperti Korea ini. Kita bisa menggunakan microwave yang ada di hostel untuk menghangatkan lauk yang dibawa dari Indonesia dan nasi siap konsumsi yang dijual di convenient store.
Makanan saya selama di Korea, sambal dan nasi siap konsumsi 
Selepas Maghrib, saya berencana menuju Gwanggali beach untuk melihat Gwangandaegyo bridge yang terkenal indah dengan lampu-lampu yang menghiasinya saat malam. Meski musim semi sudah hampir usai, sisa-sisa suhu dingin masih sangat terasa, terlebih saat matahari semakin terbenam. Dingin dari luar bahkan menembus dinding-dinding hostel dan terasa menggigil saat penghangat ruangan tak dinyalakan. Meski dingin seolah tak berkesudahan, rencana ke jembatan Gwangan tak sirna. Keluar hostel menuju Busan Station pukul 20.10 saya yakin masih bisa mengejar subway terakhir untuk pulang kembali ke hostel.
Lingkungan sekitar hostel yang saya lewati menuju stasiun Busan
Busan station tampak seberang dari jalanan hostel
Stasiun kereta api Busan Station. Stasiun subway ada di dalam tanah
Untuk menuju jembatan Gwangandaegyo, dari Busan station (Line 1 warna oranye), saya harus transit terlebih dahulu di stasiun  Seomyeon untuk transfer ke Line 2 (warna hijau) jurusan Jangsan dan turun di stasiun Gwangan (exit 3 or 5) lalu berjalan 10 menit menuju pantai GwanggaliSaat transfer di stasiun Seomyeon, jam menunjukkan pukul 21.00 yang lantas membuat kepercayaan diri tiba-tiba hilang. Saya duduk termangu, menghitung estimasi waktu dan terus meragu antara meneruskan perjalanan atau kembali ke hostel. Setelah beberapa lama, saya memutuskan untuk putar balik. Tak yakin cukup waktu mengejar subway terakhir untuk pulang akhirnya menjadi alasan saya memutuskan untuk kembali ke hostel. 
Exit 7 Busan Station, exit terdekat dari dan menuju hostel
Suasana malam di jalanan depan Busan station 
Mencoba rute yang berbeda, dalam perjalanan kembali ke hostel
Entah jam berapakah aktifitas orang-orang di kota ini mulai usai. Jam 8 malam saat saya keluar, lingkungan di sekitar hostel sudah sepi. Apalagi saat saya kembali pukul 21.45-an situasi jalanan menuju hostel, lebih sepi. Saat di hostel pun suasana sepi. Teman Korea yang saya temui di kamar sore tadi juga tampaknya sedang keluar. Saya segera bebersih dan istirahat karena esok pagi saya harus mengejar kereta menuju Seoul. 
Sepi, suasana di female dormitory room di hostel yang saya tempati
Meski cuaca tak sesuai yang diharapkan, meski tak banyak tempat yang dikunjungi, meski hari ini lebih banyak dihabiskan keluar-masuk stasiun dengan bimbang dan tanpa kejelasan, namun saya cukup senang bisa melewati hari pertama di Korea dengan lancar. Setidaknya saya tidak tersesat di negara yang minim alfabet ini. Tak ada yang lebih saya syukuri selain dipertemukan dengan orang-orang baik. Tanpa direncana, tanpa terduga, kebaikan akan datang dengan sendirinya. Tuhan selalu ada dan tak pernah meninggalkan kita. Dia selalu bersama hamba-hamba-Nya, termasuk para pengembara. Masih ada enam hari lagi. Well, let's see apa yang akan terjadi.
-bersambung-

Catatan:
Direction to Yongdusan Park/Busan Tower:
Nampo Station (Busan Subway Line 1), Exit 7. Setelah keluar dari stasiun, belok kiri menuju Gwangbok-ro Street (광복로). Jalan lurus 160 meter untuk sampai di Yongdusan Park (eskalator ada di sebelah kanan).
Pengeluaran hari pertama:
Cashbee card 2500 won
Top-up 10000 won
Nasi instan 1300 won
Hostel 15000 won
Total 28.800 won = IDR 345.000 (1won=12rupiah -dibulatkan)



You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com