SOLO TRIP KOREA. Day 2 Part 3: Penghabisan Hari Pertama di Ibukota Korea (005)

by - February 05, 2016

Berkunjung ke Masjid Seoul
Jingga senja mulai menggelayuti langit ibukota. Itu artinya, waktu sholat Maghrib akan segera tiba. Berikutnya, masih di hari kedua di Korea, 21 April 2015. Sisa hari ini saya selipkan agenda khusus untuk ikut sholat berjamaah di Seoul Central Mosque setelah agenda sebelumnya telah terpenuhi yaitu mencicipi makanan Korea di restoran EID  (baca: review restoran EID).

Gerbang atau pintu masuk kawasan Masjid Seoul
Dinding pintu masuk Masjid Seoul
Kaligrafi di dinding-dinding pintu masuk Masjid Seoul
Bangunan utama Masjid Seoul
Letaknya hanya sekitar 100 meter dari restoran EID, Seoul Central Mosque atau Masjid Seoul adalah pusat kegiatan agama islam di Kota Seoul. Terletak di daerah Itaewon, masjid ini berdiri di dataran yang agak tinggi sehingga pemandangan sekilas ibukota Korea ini bisa dinikmati dari tempat ini. Maghrib di musim semi saat itu adalah sekitar pukul 19.15-an dan sembari menunggu waktu Maghrib, saya habiskan waktu dengan duduk-duduk di depan masjid, menikmati suasana matahari tenggelam hingga berbincang sesekali dengan orang-orang Malaysia dan orang lokal yang sedang mengunjungi masjid Seoul.
Menikmati jingga senja dengan pemandangan sekilas ibukota
Permukiman penduduk tampak dari halaman masjid 
Senja perlahan mulai berpudar berganti malam. Matahari sepenuhnya kembali ke peraduan seiring Adzan Maghrib yang mulai berkumandang. Para jamaah lantas bersiap. Tempat wudlu untuk perempuan terletak di belakang, sementara tempat shalat jamaah wanita ada di lantai tiga. Lantai pertama bangunan masjid digunakan sebagai ruang rapat dan kantor KMF (Korean Muslim Federation) sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat sholat untuk pria. Sholat Maghrib berlangsung khidmat dan selesai pada sekitar pukul 19.40-an.
Senja berpudar berganti malam
Maghrib di Masjid Seoul
Saya beranjak meninggalkan masjid selepas kelar sholat Maghrib dan kembali menyusuri tiap jalanan kecil untuk sampai di stasiun subway Itaewon. Saya berencana untuk mengunjungi sebuah jembatan yang terkenal dengan hiasan air mancur bewarna-warni. Adalah Banpodaegyo, salah satu jembatan yang membelah sungai Han, dimana saat malam tiba, jembatan ini menawarkan pertunjukan air mancur warna-warni dengan formasi tertentu dan berharmonisasi dengan lantunan musik yang dimainkan. Nama pertunjukan air mancur pelangi tersebut adalah Banpo Moonlight Rainbow Fountain, yang dapat dilihat dari Banpo Hangang Park. 
Suasana malam di daerah Itaewon (1)
Suasana malam di daerah Itaewon (2)
Suasana malam di daerah Itaewon (3)
Jalanan menuju stasiun subway Itaewon
Begitu sampai di stasiun Express Bus Terminal, stasiun subway terdekat menuju ke jembatan Banpo, saya tak kunjung melihat tanda-tanda pertunjukan air mancur yang dimaksud. Meski sudah mengikuti petunjuk yang ada hingga sampai di exit 2, saya hanya menemukan gedung-gedung tinggi begitu keluar dari permukaan bumi. Tanda-tanda sungai, jembatan, dan pertunjukan air mancur tak kunjung nampak hingga memaksa diri untuk bertanya pada orang lokal yang ditemui di jalan. Namun semua sia-sia, semua penjelasannya dalam bahasa Korea. Bye!
Sepi, tak tampak tanda-tanda air mancur dan sejenisnya~
Banpo Moonlight Rainbow Fountain hanya bisa disaksikan selama bulan April-Oktober setiap tahunnya. Berpacu dengan waktu mengejar pertunjukan terakhir pukul 21.00, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 20.50, saya terburu-buru. Tujuan berikutnya adalah stasiun Sinbanpo yang juga bisa mencapai Banpo Bridge. Namun setelah menghitung waktu yang tak mungkin cukup, saya putuskan untuk kembali ke Hongik Station untuk pulang ke hostel. 
Mari mencari jalan kembali pulang~
Sepi, sekitar pukul 22.00 di stasiun subway antah berantah
Apes, saya justru menuju ke arah yang berlawanan dari arah pulang. Selama lebih kurang dua jam-an, saya hanya berputar-putar, berpindah-pindah dari satu stasiun ke stasiun berikutnya, transit dari satu line ke line lainnya, hingga terdampar di sebuah stasiun yang sangat sepi di pinggiran kota Seoul. Saya bahkan sempat ngopi cantik dari mesin pembuat kopi sebagai penghalau dinginnya malam sembari menunggu kereta datang. Sementara waktu semakin malam, saya akhirnya bisa menemukan jalan kembali ke stasiun Hongik.
Tersesat hingga ke daerah pinggiran Seoul
Dan terdampar di sebuah stasiun yang sangat sepi
Ngopi seadanya sembari menunggu datangnya kereta
Jam menunjukkan lebih dari pukul 11 malam dan beberapa sudut jalanan sudah tampak cukup lengang dan sepi, terutama jalanan kecil menuju hostel. Hostel yang saya tempati adalah BoA Travel House (dulunya bernama BoA Guesthouse) yang merupakan hostel muslim-friendly (review-nya saya tulis berikutnya). Sesampainya di penginapan, saya segera bergegas untuk bebersih diri dan istirahat karena rencana besok adalah mengunjungi tiga tempat sekaligus di pinggiran kota Seoul. 
Masih rame? Iya~ Itu perempatan lampu merah :D
Salah satu sudut jalanan menuju hostel
Jalanan atau gang kecil menuju hostel
Saya bersyukur bisa memenuhi misi mendapatkan makanan halal dan shalat di Masjid Seoul di hari pertama di ibukota ini, meski drama tersesat di negara antah berantah juga turut mewarnai cerita hari ini. Cerita besok, tak sengaja bertemu dan di-guide sama orang Korea. Berikutnya, terimakasih sudah mampir dan membaca. Kamsahamnida~
-bersambung-

Catatan kaki (?):
By the way, sudah 2016! Sudah Februari! Selamat Tahun Baru! ~telat yaa~ :D .. Lebih dari sebulan vakum update posting blog. Karena kesibukan buat trip berikutnya, dan sedikit waktu tersita untuk kursus bahasa, jadilah lupa sama blog. Well, sudah hampir setahun sejak pelesiran ke Korea tapi belum juga kelar menulis tentangnya. Maapkeun~ By the way, semoga 2016 menjadi tahun yang berkesan, dimana semua orang diberi kesempatan menjelajah tempat-tempat baru, dan menjadi tahun impian yang menjadi kenyataan. Sekali lagi,  새해 복 많이 받으세요!

You May Also Like

0 comments

Punya Rencana Ke Korea?

trazy.com